Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai pemerintah perlu memperkuat neraca pangan wilayah untuk menyinkronkan produksi dan kebutuhan antardaerah guna mencegah tekanan harga pangan pada September 2026.

“Menurut saya penyebab kenaikan harga pangan saat ini akibat peningkatan permintaan yang tidak diimbangi pasokan, peralihan musim panen, serta dorongan program makan bergizi,” kata Esther kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Esther menilai tekanan harga saat ini tidak berasal dari satu faktor karena kondisi setiap komoditas berbeda, mulai dari peningkatan permintaan daging ayam ras hingga berkurangnya pasokan sejumlah komoditas dari sentra produksi.

Bank Indonesia (BI) mencatat kelompok pangan bergejolak (volatile food) mengalami inflasi 0,88 persen secara bulanan pada Agustus 2026 setelah pada Juli mengalami deflasi 1,68 persen. Inflasi kelompok tersebut terutama disumbang daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.

Baca juga: Mentan: Penggunaan pertanian modern tingkatkan perekonomian petani

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat daging ayam ras menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi bulanan Agustus, yakni 0,17 persen. Cabai rawit, ikan segar, dan beras masing-masing memberikan andil 0,02 persen.

Esther mengaitkan peningkatan permintaan daging ayam ras dengan kembali berjalannya Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sementara itu, ia menilai kenaikan harga cabai rawit dan ikan segar berkaitan dengan berkurangnya pasokan dari daerah sentra penghasil.

Terkait beras, Esther menilai berakhirnya musim panen raya dan masuknya masa tanam kedua membuat pasokan di pasar mulai berkurang sehingga perlu diantisipasi dalam pengelolaan pasokan.

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.