Jakarta (ANTARA) - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di tengah gejolak geopolitik yang mengganggu rantai pasok energi global.

“Ini merupakan bagian kami mendorong peningkatan energi baru terbarukan. Hal ini merupakan bagian dari program prioritas pemerintah yang tertuang dalam Astacita,” ucap Wakil Menteri ESDM, Yuliot dalam The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu.

Yuliot meyakini pengembangan EBT akan berkontribusi terhadap swasembada energi. Dengan terwujudnya swasembada energi, tutur dia, seluruh kegiatan ekonomi bisa dilaksanakan.

Sedangkan, tanpa ketersediaan energi yang cukup, apa pun kegiatan ekonomi, transportasi, akan mengalami hambatan.

“Kemudian, dengan adanya EBT, kami mengharapkan adanya penciptaan lapangan kerja,” kata Yuliot.

Penciptaan lapangan kerja tersebut, lanjut dia, dapat terwujud dari kegiatan investasi dan wirausaha yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia.

Sejumlah upaya yang telah dilakukan oleh Indonesia dalam rangka pengembangan EBT adalah menerapkan program biodiesel B50, melakukan konversi kendaraan dari konvensional yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM) menjadi kendaraan listrik, hingga menggalakkan pembangunan pembangkit listrik terbarukan yang berasal dari surya, panas bumi, maupun air.

Sebelumnya, Yuliot menyampaikan, apabila pemerintah tidak mengantisipasi gejolak geopolitik dengan energi baru terbarukan, pembengkakan kompensasi dan subsidi energi bisa mencapai Rp300 triliun dari anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

Saat ini, pemerintah menganggarkan subsidi energi sebesar Rp210,1 triliun, atau sekitar 65,87 persen dari total anggaran subsidi dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp318,9 triliun.

Sedangkan, apabila digabung dengan kompensasi, maka anggaran yang digelontorkan pemerintah untuk ketahanan energi sebesar Rp381,3 triliun.

Sementara itu, mengutip Sputnik, harga minyak mentah Brent global naik hingga tembus 96 dolar AS per barel di tengah gelombang baru serangan Amerika Serikat dan Iran, berdasarkan data perdagangan.

Pada pukul 00.58 GMT, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember naik 1,48 persen dari penutupan sebelumnya menjadi 96,65 dolar AS per barel. Sementara itu, kontrak berjangka minyak jenis WTI untuk pengiriman Oktober naik 1,98 persen menjadi 92,20 dolar AS per barel.

Angka tersebut menunjukkan lonjakan harga yang signifikan apabila dibandingkan pada akhir Agustus lalu.

Harga minyak mentah Brent sempat anjlok pada akhir Agustus 2026 ke kisaran 86,2 dolar AS per barel, melanjutkan penurunan 2,4 persen pada sesi sebelumnya. Begitu pula dengan West Texas Intermediate (WTI) juga turun 5,5 persen menjadi 80,40 dolar AS per barel.

Baca juga: Danantara: Pengembangan PLTS 100 GW butuh investasi Rp1.130 triliun

Baca juga: DEN dorong energi laut segera masuk tahap implementasi

Baca juga: Akademisi menilai kepastian pembeli listrik perkuat investasi EBT

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.