Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menegaskan pembangunan Indonesia memerlukan perpaduan seimbang antara "etika peradaban" yang digagas Mohammad Natsir dan "kedaulatan kemampuan" yang dicita-citakan Bacharuddin Jusuf Habibie.

Dalam acara BJ Habibie Memorial Lecture Ke-5, di Jakarta, Rabu, ia mengatakan pemikiran Mohammad Natsir sebagai Perdana Menteri Ke-5 Indonesia mengenai demokrasi teistik menekankan pentingnya orientasi moral dan etika dalam mengelola kekuasaan politik.

"Agama diposisikan sebagai sumber etika publik yang menginspirasi nilai amanah, keadilan, musyawarah, dan pembatasan kekuasaan," ucap Yusril.
Baca juga: Menko Yusril: Demokrasi harus menjadi cara hidup bermasyarakat

Yusril juga mengutip Mosi Integral Natsir pada 3 April 1950 sebagai teladan etika kebangsaan yang mengutamakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di atas kepentingan kelompok.

Baca juga: Menko Yusril: Demokrasi harus menjadi cara hidup bermasyarakat

Di sisi lain, kata dia, Habibie yang merupakan Presiden Ke-3 RImengarahkan bangsa pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang berlandaskan iman dan takwa (imtaq).

Ia menyebut Habibie mengusung strategi nilai tambah "berawal dari akhir dan berakhir di awal" agar bangsa Indonesia tidak sekadar menjadi konsumen teknologi luar negeri, tetapi memiliki kapabilitas industri dan riset mandiri.

Yusril turut menguraikan kontribusi Habibie saat memimpin masa transisi Reformasi 1998–1999 yang melahirkan fondasi hukum dan demokrasi modern, mulai dari jaminan kebebasan pers, Undang-Undang (UU) Partai Politik, UU Pemilu, UU Otonomi Daerah, hingga UU Hak Asasi Manusia.

Ditambahkan bahwa Habibie juga menunjukkan etika politik konstitusional dengan mematuhi mekanisme demokrasi dan mundur secara legawa ketika penolakan pertanggungjawaban terjadi di MPR pada 1999.
"Sintesis dari pemikiran kedua tokoh ini adalah peradaban yang berkarakter dan berkemampuan," tuturnya.

Dengan demikian, ia menilai Natsir memberikan kompas etika, sedangkan Habibie menghadirkan mesin penggerak peradaban.

Tanpa mesin, kata dia, kompas tidak dapat mengarahkan kapal ke tujuan. Sebaliknya, mesin tanpa kompas dapat mempercepat kapal menuju arah yang salah.

Dirinya pun menegaskan setidaknya ada lima agenda pokok etika peradaban menuju 2045. Pertama, memperkuat kemampuan Indonesia dalam menghasilkan dan menguasai ilmu pengetahuan.

Kedua, kebijakan industri yang strategis perlu dievaluasi berdasarkan kemampuan yang benar-benar berkembang di dalam negeri. Ketiga, demokrasi harus dipelihara sebagai mekanisme untuk melakukan koreksi.

Agenda keempat, lanjut dia, yakni Pancasila perlu terus diinternalisasi dalam praktik kehidupan bernegara. Kelima, hukum harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Baca juga: Jimly Asshiddiqie: Hukum dan etika harus berjalan beriringan

Baca juga: Dari Jimly hingga Quraish, lima ilmuwan bangsa raih Habibie Prize 2025

Baca juga: Yusril berpesan agar generasi muda belajar pemikiran pendiri bangsa

Pewarta: Agatha Olivia Victoria
Editor: La Ode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.