Kabul (ANTARA) - Sebuah laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan dampak kemanusiaan dari konflik bersenjata selama lebih dari satu dekade di Afghanistan serta mendokumentasikan bahwa sedikitnya 40.000 warga sipil tewas.
Laporan PBB itu juga menyebutkan bahwa lebih dari 77.000 orang lainnya mengalami luka-luka antara Januari 2009 dan pertengahan Agustus 2021.
Kajian komprehensif yang dirilis pada Selasa (1/9) oleh Misi Bantuan PBB di Afghanistan (UNAMA) tersebut didasarkan pada kesaksian langsung yang dikumpulkan melalui sesi wawancara dengan 195 penyintas konflik dan keluarga mereka, serta konsultasi dengan 23 lembaga swadaya masyarakat nasional dan internasional yang melayani para korban kekerasan, dan dialog dengan 23 pejabat Taliban.
Hampir semua orang yang diwawancarai (95 persen) melaporkan dampak emosional atau psikologis, termasuk depresi, kecemasan, kilas balik ingatan, dan gejala terkait trauma lainnya, sementara lebih dari separuh (58 persen) mengalami penderitaan fisik akibat konflik bersenjata, menurut laporan tersebut.
Saat ditanya mengenai kebutuhan mereka, para korban menyebut kompensasi keuangan (81 persen), akses terhadap keadilan (48 persen), dan langkah-langkah untuk mencegah terulangnya pelanggaran (47 persen), papar laporan tersebut.
Laporan itu mendesak semua pihak yang memikul tanggung jawab yang timbul dari konflik tersebut untuk mendukung upaya akuntabilitas serta berkontribusi pada langkah-langkah yang memenuhi hak dan kebutuhan para korban.
Pewarta: Xinhua
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.