Jakarta (ANTARA) - OpenAI meluncurkan Astra yakni model kecerdasan artifisial (AI) terbaru yang diklaim sebagai model paling kuat dan cerdas yang dikembangkan perusahaan tersebut hingga saat ini.

Dilansir dari laporan Tech Crunch pada Kamis (3/9) waktu setempat, OpenAI menyebut Astra sebagai model yang membawa kemampuan baru dalam penggunaan komputer dan peramban (browser), dengan fokus pada kecepatan, akurasi, dan keamanan dalam menjalankan berbagai tugas.

Pada tahap awal, Astra tersedia bagi pelanggan OpenAI yang menggunakan Daybreak, program keamanan siber perusahaan. Dalam sepekan berikutnya, model tersebut akan tersedia bagi pengguna paket berbayar, termasuk Pro, Plus, Enterprise, dan Business, serta melalui API OpenAI.

Baca juga: ChatGPT kini bisa baca dan balas pesan Apple Messages di Mac

Baca juga: OpenAI rilis "ChatGPT for Teens", chatbot AI lebih aman untuk remaja

Presiden OpenAI Greg Brockman mengatakan Astra merupakan model perusahaan yang paling cerdas sekaligus memiliki tingkat keselarasan (alignment) yang paling baik.

Menurut dia, Astra menggabungkan hasil penelitian OpenAI selama bertahun-tahun dan berbagai pengembangan teknologi yang dibangun secara bertahap.

Salah satu kemampuan yang disoroti adalah aspek keamanan siber. OpenAI mengatakan Astra telah diuji melalui berbagai tolok ukur keamanan untuk memastikan kemampuannya.

Perusahaan menyebut kemampuan Astra dalam mengidentifikasi dan mengembangkan eksploitasi zero-day dapat membantu menemukan serta memperbaiki celah keamanan siber pada sebuah sistem.

Baca juga: OpenAI luncurkan aplikasi ChatGPT untuk Linux

OpenAI juga menyoroti kemampuan Astra dalam bidang pemrograman. Perusahaan mengklaim Astra sebagai model terbaiknya untuk pekerjaan rekayasa perangkat lunak sejauh ini.

Hasil sejumlah pengujian menunjukkan Astra memperoleh skor lebih tinggi dibandingkan sejumlah model AI lain dalam tugas seperti menemukan bug, menjalankan perintah melalui terminal, serta menjawab pertanyaan mengenai basis kode.

Di sisi lain, Astra menjadi salah satu model OpenAI yang kontroversial karena menggunakan teknik penalaran yang disebut opaque recurrence.

Teknik tersebut dapat membuat proses chain of thought, yang biasa digunakan peneliti untuk memantau bagaimana model AI menghasilkan keputusan, menjadi lebih sulit diamati sehingga penalaran dan tindakan AI juga semakin sulit diawasi.

OpenAI mengakui peningkatan kemampuan model AI membuat proses pemantauan penalarannya semakin sulit. Kepala Ilmuwan OpenAI Jakub Pachocki mengatakan pemantauan proses penalaran tetap menjadi bagian penting dari pengawasan terhadap model AI.

Ia menjelaskan, dalam beberapa kasus, model AI dapat menyelesaikan tugas yang lebih kompleks dengan menggunakan lebih sedikit token bahasa, bahkan tanpa menggunakan token bahasa. Kemampuan tersebut membuat proses penalaran untuk tugas tertentu menjadi lebih sulit dipantau.

Baca juga: RI masuk Top 10 ChatGPT, OpenAI ungkap kunci optimalkan ekosistem AI

Baca juga: SEAPPI ungkap kunci RI raih potensi ekonomi dari AI Rp5,8 Kuadriliun

Baca juga: Apple beberkan bukti pencurian rahasia dagang oleh mantan karyawan

Penerjemah: Farhan Arda Nugraha
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.