Jakarta (ANTARA) - Belakangan ini, kata desil semakin sering terdengar dalam percakapan sehari-hari. Orang mulai bertanya, "Saya desil berapa?" Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun, bagi sebagian keluarga, jawabannya dapat terasa penting.

Posisi dalam desil sering dikaitkan dengan akses terhadap berbagai program perlindungan sosial. Karena itu, ketika posisi desil berubah, muncul pula kekhawatiran apakah bantuan yang selama ini diterima akan berubah.

Kekhawatiran tersebut sebenarnya dapat dipahami. Ketika sebuah istilah statistik mulai berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, angka tidak lagi terasa sebagai angka. Ia dapat menjadi harapan, kekhawatiran, bahkan penentu keputusan.

Namun, mungkin kita perlu melihat desil dengan cara yang sedikit berbeda. Desil bukanlah label tentang siapa yang miskin dan siapa yang kaya. Desil adalah cara untuk melihat posisi relatif seseorang atau keluarga dalam distribusi kesejahteraan.

Desil sebagai peta

Bayangkan sebuah peta. Ketika kita melihat titik pada peta, yang kita ketahui adalah posisi kita dibandingkan dengan tempat lain. Kita tidak serta-merta mengetahui seluruh cerita tentang tempat tersebut. Begitu pula dengan desil.

Baca juga: Sinkronisasi data BKKBN dan BPS pemicu perubahan status desil bansos

Secara sederhana, desil membagi penduduk atau keluarga ke dalam 10 kelompok berdasarkan tingkat kesejahteraan relatif. Desil 1 berada pada kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan desil 10 berada pada kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi. Karena itu, desil bukan angka pendapatan. Ia juga bukan label permanen bahwa seseorang "miskin" atau "kaya".

Sebuah keluarga dapat mengalami perubahan kondisi ekonomi dan pada saat yang sama, posisi relatifnya dalam masyarakat juga berubah.

Keluarga yang sebelumnya berada pada kelompok bawah dapat bergerak ke kelompok yang lebih tinggi. Sebaliknya, keluarga yang sebelumnya relatif aman dapat mengalami tekanan ekonomi dan bergerak ke kelompok yang lebih rendah. Desil menunjukkan di mana kita berada, bukan seluruh cerita tentang bagaimana kita sampai di sana.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.