Bima (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat Hari Tanpa Hujan (HTH) di Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, mencapai 105 hari dan masuk kategori kekeringan ekstrem akibat musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Muhammad Salahuddin Bima Moch Syaiful Annas mengatakan berdasarkan pemantauan dinamika atmosfer dan laut hingga Dasarian III Agustus 2026, musim kemarau masih berlangsung di sejumlah wilayah Kabupaten Bima, Kabupaten Dompu, dan Kota Bima.

"HTH terpanjang di Kabupaten Bima tercatat di Kecamatan Bolo selama 105 hari dan masuk kategori kekeringan ekstrem," katanya kepada ANTARA, Jumat.

Selain Bolo, kata dia, sejumlah wilayah Kabupaten Bima juga berada dalam kategori kewaspadaan kekeringan yang berbeda.

"Status siaga terdapat di Kecamatan Sanggar dan Monta, sedangkan status awas tercatat di Kecamatan Bolo, Donggo, Lambitu, Soromandi, dan Wera," ujarnya.

Baca juga: WMO: El Nino menguat, risiko banjir dan kekeringan meningkat

Menurut dia, kondisi kekeringan tersebut dipengaruhi fenomena El Nino yang saat ini berada pada kategori sangat kuat. Anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 tercatat sebesar positif 2,74 derajat Celsius.

"Kondisi El Nino sangat kuat diprakirakan bertahan hingga awal 2027 sehingga berpotensi memperpanjang periode kering di Indonesia, termasuk wilayah Nusa Tenggara Barat," kata Syaiful.

Ia mengatakan curah hujan pada Dasarian III Agustus 2026 di wilayah NTB umumnya berada pada kisaran 0-10 milimeter per dasarian dan masuk kategori bawah normal.

Peluang terjadinya hujan pada Dasarian I September 2026 di wilayah Bima, Dompu, dan sekitarnya juga masih rendah, yakni kurang dari 10 persen.

"Untuk September, curah hujan bulanan di Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Dompu diprakirakan masih rendah, umumnya kurang dari 20 milimeter hingga 21-50 milimeter per bulan," ujarnya.

Baca juga: BMKG NTB sebut kekeringan ekstrem terjadi hampir tiga bulan di Bima

Ia menyebut kondisi curah hujan rendah dengan akumulasi kurang dari 50 milimeter per bulan masih berpotensi terjadi hingga Oktober 2026.

Peningkatan curah hujan mulai diprakirakan terjadi pada November 2026, meskipun sebagian besar wilayah masih berada pada kategori rendah dengan kisaran 51-100 milimeter per bulan.

BMKG mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air dan menyesuaikan pemanfaatan air untuk kebutuhan rumah tangga maupun pertanian dengan kondisi ketersediaannya.

Masyarakat, khususnya petani, juga diminta menyesuaikan jadwal tanam serta memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kekeringan.

"Selain itu, kami mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran karena kondisi kering dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran," katanya.

BMKG juga meminta masyarakat terus memantau informasi dan peringatan dini cuaca serta perkembangan kondisi iklim melalui kanal resmi BMKG sebagai langkah mengantisipasi dampak musim kemarau.

Baca juga: BMKG: Musim hujan Bengkulu mundur hingga Dasarian III Oktober 2026

Baca juga: Hari tanpa hujan, BMKG: 9 daerah di NTB berstatus awas kekeringan

Pewarta: Ady Ardiansah
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.