"Nagabonar Jadi 2" Tak Lagi Mengenang Penjajahan

JKT Jakarta (ANTARA News) - Setelah 20 tahun, film terbaik versi Piala Citra FFI 1987 Nagabonar dibuatkan sekuel oleh sang "Nagabonar" sendiri, yakni aktor Deddy Mizwar. Selain kembali berperan sebagai Nagabonar, dalam film yang akan beredar akhir Maret itu Deddy juga bertindak sebagai sutradara. Dan jika film Nagabonar tahun 1987 menggunakan setting zaman penjajahan dulu, sekuelnya yang berjudul "Nagabonar Jadi 2" itu akan menggunakan setting masa kini, dan musuh yang harus dihadapi Nagabonar sekarang bukanlah lagi para penjajah, namun ia harus melawan era globalisasi serta kapitalisasi. "Kalau dulu Nagabonar digunakan untuk 'melihat ke belakang' (masa lalu), maka Nagabonar yang sekarang adalah untuk `melihat ke depan`. Nagabonar Jadi 2 mengajak kita untuk kembali melihat Indonesia dari hati," ujar Deddy saat premier di Djakarta Theatre, Jakarta, Selasa malam. Aktor senior itu juga mengisahkan tentang keinginan salah seorang pemodal yang menginginkan agar sekuel itu untuk tetap menggunakan setting zaman penjajahan, tetapi ditolaknya mentah-mentah. "Saya tidak punya kemampuan untuk itu, saya harus melakukan riset terlebih dahulu dan saya tidak mampu. Saya juga harus melakukan riset untuk tahu apa itu metroseksual, tetapi itu lebih mudah dilakukan saat ini," katanya. Deddy juga menganggap bahwa penggunaan setting masa kini dan permasalahan masa kini mungkin lebih dibutuhkan daripada kembali mengenang masa penjajahan. Dalam sekuel tersebut, Nagabonar bermasalah dengan anak semata wayangnya Bonaga (Tora Sudiro), seorang pemuda modern berpendidikan S2 lulusan luar negeri yang berniat untuk menjual perkebunan kelapa sawit warisan keluarga. Kebun luas yang tidak lagi menguntungkan itu tidak berarti apa-apa bagi Bonaga, namun tidak begitu bagi Nagabonar karena tiga orang yang sangat dicintainya terbaring di makamnya di tengah perkebunan itu, yakni sang istri Kirana, ibunya dan sahabatnya, Bujang. Pertentangan terjadi antara generasi Nagabonar dan generasi Bonaga yang keras kepala dan berujung kepada kesadaran mengenai arti penting cinta dan keluarga bagi si anak. Selain nilai-nilai cinta dan keluarga, Deddy juga mengisyaratkan nilai penting perjuangan dan sejarah kemerdekaan bangsa yang digambarkannya dengan keinginan Nagabonar untuk mengunjungi situs-situs bersejarah serta makam pahlawan. Aktris Wulan Guritno juga ikut berperan dalam film tersebut sebagai Monita, perempuan yang dicintai Bonaga dan beberapa aktor lain yang terlibat adalah Lukman Sardi sebagai Umar, Darius Sinathrya (sebagai Pomo), Uli Herdinansyah (sebagai Ronny), dan Michael Mulyadro (sebagai Jaki) hingga Indra Birowo yang berperan sebagai penjual karpet. (*)

COPYRIGHT © ANTARA 2007

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar