alam akan membalas setiap perbuatan baik manusia kepadanya

Jakarta (ANTARA) - Di kawasan Pemogan, Denpasar Selatan, Bali, terhampar sebuah benteng alam yang berdiri kokoh memeluk pesisir. Itu adalah Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, tempat yang pas untuk menepi sejenak dari hiruk-pikuk lalu lintas dan teriknya matahari Kota Denpasar.

Begitu melangkahkan kaki ke dalam kawasan ini, suasana hiruk pikuk kota langsung berubah menjadi hening. Suara klakson kendaraan perlahan memudar, digantikan oleh simfoni alam berupa kicauan burung, desir angin yang menyelinap di antara dedaunan, dan gemercik air payau yang membelai akar-akar pepohonan.

Udara yang terhirup terasa jauh lebih segar, seolah paru-paru baru saja diberi napas buatan yang melegakan.

Tahura Ngurah Rai bukanlah hutan biasa. Kawasan seluas 1.373 ha itu, sebagian besarnya, yaitu sekitar 1.000 ha, berupa hamparan hutan mangrove padat yang dikelola dan dijaga kelestariannya dengan serius.

Sejarah panjang menyertai kawasan ini. Penanaman mangrove secara masif yang mengubah wajah pesisir Bali menjadi sabuk hijau yang rimbun seperti saat ini, awalnya berkat bantuan Japan International Cooperation Agency (JICA).

Di balik keindahan dan rimbunnya dedaunan bakau, tersimpan sebuah cerita panjang tentang perjuangan, kolaborasi, dan realita lapangan yang jauh dari sekadar kata "indah".

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud) Dr Dewa Gede Wiryangga Selangga saat mengikuti acara Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, Pemogan, Denpasar Selatan, Bali, Rabu (2/9/2026). ANTARA/Ilham Kausar

Bukan sekadar tanaman pesisir

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.