KLH/BPLH menurunkan tim teknis untuk memantau kualitas udara ambien (PM2.5 , PM10), konsentrasi gas Sulfur Dioksida (SO2 ), serta kualitas air laut di pesisir Banten dan Lampung

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memastikan terus memantau kondisi kualitas udara di wilayah terdampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau, dengan sejumlah wilayah Sumatera di bagian selatan masuk dalam kategori sangat tidak sehat.

Plt. Deputi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, KLH/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Noer Adi Wardoyo dalam pernyataan dikonfirmasi dari Jakarta, Minggu, menyampaikan pemantauan kualitas udara terus dioptimalkan melalui Air Quality Monitoring System (AQMS) dan sistem Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).

"KLH/BPLH menurunkan tim teknis untuk memantau kualitas udara ambien (PM2.5 , PM10), konsentrasi gas Sulfur Dioksida (SO2 ), serta kualitas air laut di pesisir Banten dan Lampung," katanya.

Hasil pemantauan sementara pada 6 September 2026 sampai dengan pukul 14.00 WIB memperlihatkan sejumlah wilayah selatan Sumatera dengan stasiun pemantauan di Palembang Bukit Kecil, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, dan Kabupaten Ogan Ilir, memiliki nilai ISPU masuk dalam kategori sangat tidak sehat.

Baca juga: Badan Geologi: Abu vulkanik Anak Krakatau tersebar ke lima provinsi

Sementara itu yang masuk dalam kategori tidak sehat adalah Kabupaten Lahat, Kabupaten Musi Rawas, Kota Prabumulih, Kabupaten Musi Banyuasin Serasan Jaya, Kabupaten Tebo, Jambi Paal Lima, dan Kabupaten Tanjabtim Muara Sabak.

Untuk kategori kualitas udara sedang di Sumatera adalah Kabupaten Muara Enim, Bengkulu Singaran Pati, dan Bandar Lampung Talang.

Sementara untuk wilayah Jawa yang masuk kategori sedang untuk kualitas udara adalah tercatat di titik pemantauan Jakarta GBK, Serang Sumurpecung, Tangerang Pasir Jaya, Tangerang Selatan Serpong, Cilegon Pulomerak, dan Kabupaten Bogor Leuwiliang.

Turut menjadi catatan bahwa untuk wilayah Sumatera bagian Selatan juga masih terdampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dapat mempengaruhi penilaian ISPU.

Baca juga: BNPB: 15 kecamatan di Lampung & Banten terdampak erupsi Anak Krakatau

"Selain itu perlu kami sampaikan bahwa KLH/BPLH juga masih memperdalam hubungan langsung peningkatan partikulat dengan erupsi Gunung Anak Krakatau yang memerlukan kajian teknis lebih lanjut," kata Noer Adi.

Dia meminta masyarakat agar tetap tenang dan hanya merujuk kepada informasi resmi terkait erupsi Gunung Anak Krakatau dan dampak lanjutannya. Selain juga untuk terus mewaspadai apabila terjadi perubahan kualitas udara.

Kelompok rentan yaitu anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita gangguan pernapasan, juga diimbau berhati-hati dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan jika diperlukan.

Baca juga: 4 bandara ditutup sementara akibat sebaran abu vulkanik Anak Krakatau

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.