Jakarta (ANTARA) - Keracunan makanan dapat terjadi setelah seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi. Mual, muntah, diare, sakit perut, dan demam menjadi beberapa gejala yang umum muncul.
Keluhan biasanya muncul dalam hitungan jam hingga beberapa hari setelah mengonsumsi makanan yang menjadi sumber kontaminasi. Sebagian besar kasus dapat membaik dengan perawatan di rumah, tetapi kehilangan banyak cairan akibat muntah dan diare perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan dehidrasi.
Jika beberapa orang mengalami keluhan serupa setelah makan bersama, berikut pertolongan pertama yang dapat dilakukan.
1. Utamakan asupan cairan
Muntah dan diare membuat tubuh kehilangan banyak cairan. Berikan air putih secara perlahan dan dalam jumlah kecil tetapi sering, terutama jika penderita masih merasa mual.
Jangan memaksakan minum dalam jumlah banyak sekaligus karena dapat memicu muntah kembali.
2. Gunakan oralit jika diperlukan
Oralit atau larutan rehidrasi oral dapat membantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang akibat muntah atau diare.
Larutan tersebut sebaiknya dibuat dan dikonsumsi sesuai petunjuk pada kemasan. Jika penderita memiliki kondisi kesehatan tertentu atau mengalami dehidrasi berat, diperlukan penanganan medis.
Baca juga: Seratusan orang keracunan makanan dalam dua insiden terpisah di Jepang
3. Tetap makan ketika sudah mampu
Ketika rasa mual mulai berkurang, penderita dapat kembali makan sesuai kemampuan. Pilih makanan dalam porsi kecil dan mudah ditoleransi tubuh.
Makanan yang terlalu berlemak atau pedas sebaiknya sementara dihindari jika membuat keluhan semakin berat.
4. Istirahat yang cukup
Tubuh membutuhkan waktu untuk memulihkan diri setelah mengalami muntah atau diare. Karena itu, penderita sebaiknya beristirahat dan tidak memaksakan diri melakukan aktivitas berat.
5. Hindari minuman yang dapat memperburuk diare
Untuk sementara, hindari alkohol, minuman berkafein, minuman bersoda, serta minuman yang sangat manis. Beberapa jenis minuman tersebut dapat membuat keluhan pencernaan semakin tidak nyaman atau memperburuk diare.
6. Jangan sembarangan mengonsumsi obat antidiare
Obat untuk menghentikan diare tidak selalu cocok untuk semua orang. Penggunaannya perlu diperhatikan, terutama pada anak-anak atau ketika diare disertai darah dan gejala berat.
Antibiotik juga tidak boleh diminum sembarangan karena sebagian kasus keracunan makanan disebabkan virus atau dapat membaik tanpa antibiotik. Penanganan obat bergantung pada penyebab dan kondisi penderita.
Baca juga: Bupati: 34 santri korban dugaan keracunan di Sidoarjo masih dirawat
7. Perhatikan tanda-tanda dehidrasi
Dehidrasi dapat ditandai dengan rasa haus berlebihan, mulut kering, urine berwarna lebih gelap atau jumlah urine berkurang, pusing ketika berdiri, tubuh terasa sangat lelah, hingga kebingungan pada kondisi yang lebih berat.
Jika beberapa orang mengalami gejala setelah menyantap makanan yang sama, makanan yang diduga menjadi sumber masalah sebaiknya tidak lagi dikonsumsi. Simpan informasi mengenai makanan yang dikonsumsi dan waktu munculnya gejala karena dapat membantu tenaga kesehatan mengetahui kemungkinan sumber kejadian.
Kapan harus segera ke dokter?
Keracunan makanan tidak selalu bisa ditangani sendiri di rumah. Pertolongan medis diperlukan apabila penderita terus-menerus muntah sehingga tidak mampu mempertahankan asupan cairan, mengalami tanda dehidrasi, diare berdarah, sakit perut yang berat, atau kondisi semakin memburuk.
Muntah darah, kebingungan, kesulitan bernapas, kehilangan kesadaran, atau tanda dehidrasi berat juga merupakan kondisi yang membutuhkan pertolongan medis segera.
Pada anak kecil, lansia, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah atau penyakit tertentu, risiko mengalami komplikasi akibat kehilangan cairan dapat lebih tinggi. Karena itu, penanganan sebaiknya tidak ditunda jika muncul gejala yang mengkhawatirkan.
Baca juga: Wagub tegaskan biaya pengobatan korban keracunan ditanggung negara
Baca juga: Khofifah minta SPPG berbenah cegah kasus keracunan
Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.