Jakarta (ANTARA) - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) memperkuat adopsi teknologi sebagai langkah meningkatkan produktivitas dan daya saing industri furnitur nasional di tengah persaingan global.
Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur menyampaikan transformasi teknologi menjadi kebutuhan bagi industri furnitur Indonesia agar mampu menggabungkan kekuatan craftsmanship dengan presisi yang memacu produktivitas.
"Kita harus mulai memahami, menguasai, dan mengadaptasi teknologi sesuai karakter serta kebutuhan industri Indonesia. Teknologi bukan untuk menghilangkan kekuatan craftsmanship, melainkan untuk meningkatkan produktivitas," ujar dia dalam pernyataannya yang dikonfirmasi di Jakarta, Senin.
Indonesia, kata dia, memiliki modal besar berupa kekayaan sumber daya alam, keberagaman material, kekuatan desain, tradisi kriya, keterampilan perajin, serta kreativitas yang berakar pada budaya.
Namun, keunggulan tersebut perlu diperkuat dengan teknologi dan sistem produksi modern untuk menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kunjungan delegasi HIMKI ke berbagai pameran industri berskala internasional di Shanghai, China, yang meliputi China International Furniture Machinery & Woodworking Machinery Fair (WMF) 2026, China International Furniture Fair (CIFF) Shanghai, serta agenda lanjutan Furniture China 2026, 5-8 September.
Sebanyak 30 perusahaan anggota HIMKI yang menjadi delegasi mengeksplorasi perkembangan teknologi woodworking terkini, desain, material, sistem manufaktur, hingga peluang kerja sama bisnis dan transfer teknologi.
Delegasi HIMKI juga menjajaki kerja sama dengan China National Forestry Machinery Association (CNFMA). Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membuka akses lebih luas terhadap teknologi, produsen mesin, investasi, dan kemitraan industri yang dapat dikembangkan di Indonesia.
Kerja sama itu juga menjadi bagian dari persiapan penyelenggaraan IndoWood Expo yang akan digelar di Surabaya pada Juni 2027.
Dalam kunjungan ke WMF 2026 dan CIFF Shanghai, delegasi HIMKI melihat langsung perkembangan teknologi produksi, mulai dari mesin CNC, cutting, drilling, edge banding, sanding, finishing, pengolahan kayu solid, hingga sistem otomasi dan lini produksi digital terintegrasi.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa teknologi manufaktur kini tidak lagi berdiri sendiri, tetapi telah menjadi bagian dari ekosistem produksi yang terhubung mulai dari desain, perencanaan bahan baku, proses produksi, pengendalian mutu, hingga pemantauan efisiensi.
Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan Indonesia menjadi hub produksi manufaktur furnitur global melalui penguatan hilirisasi kayu berkelanjutan serta peningkatan daya saing industri nasional.
Sektor ini juga menyerap ratusan ribu tenaga kerja dan terhubung langsung dengan pasar global yang nilainya mencapai lebih dari 736,21 miliar dolar AS.
Kemenperin menilai dalam lima tahun ke depan, Indonesia diproyeksikan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga mampu memimpin dalam aspek desain dan keberlanjutan.
Baca juga: HIMKI dorong transformasi kerajinan capai ekspor 6 miliar dolar AS
Baca juga: HIMKI yakin pendidikan vokasi jadi investasi pacu daya saing industri
Baca juga: HIMKI integrasikan pameran kerajinan dengan program penguatan industri
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.