Sekolah tetap memikul tanggung jawab utama untuk memenuhi kebutuhan belajar esensial setiap murid

Jakarta (ANTARA) - Antrean sejak dini hari bukan sekadar kisah tentang bimbingan belajar atau bimbel yang laris. Ia memperlihatkan bagaimana harapan, kecemasan, reputasi, dan ketimpangan akses bertemu dalam satu nomor antrean.

Pemandangan itu terasa seperti pembukaan penjualan tiket konser. Orang datang ketika langit masih gelap, sebagian bahkan menginap, lalu berharap nomor antrean di tangan menjadi jalan menuju kursi yang terbatas.

Bedanya, yang diperebutkan bukan bangku pertunjukan, melainkan kuota bimbingan belajar untuk anak. Fenomena di kawasan Gayam, Gondokusuman, Yogyakarta, itu segera mendapat nama yang sangat digital: perburuan tiket.

Kata perburuan atau perebutan membuat peristiwa tersebut terdengar ringan, nyaris jenaka. Namun, di baliknya ada persoalan yang serius. Ratusan orang tua sedang mengirimkan pesan kolektif bahwa mereka ingin anaknya memperoleh dukungan belajar yang dianggap efektif, terjangkau, dan terbukti.

Laporan media menyebut penyedia yang diserbu oleh orang tua di Yogyakarta itu membatasi sekitar 400 peserta, dengan kelas kecil dan biaya yang relatif terjangkau. Kombinasi kapasitas terbatas, reputasi dari mulut ke mulut, dan harapan masuk sekolah pilihan menciptakan kelangkaan.

Ketika kelangkaan bertemu kecemasan, antrean menjadi rasional bagi setiap keluarga meskipun secara bersama-sama tampak berlebihan.

Perebutan tiket adalah sinyal yang penting, tetapi itu bukanlah vonis. Ia perlu dibaca bersama data, pengalaman murid, dan kualitas pembelajaran di sekolah.


Bukan referendum

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.