Kerja sama selanjutnya perlu diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan perdagangan, tetapi juga investasi, jasa dan keterhubungan dalam rantai pasok global
Jakarta (ANTARA) - Indonesia mendorong pengembangan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA) ke depan menggunakan pendekatan powerhouse untuk memperkuat ekonomi kedua negara, tidak hanya dalam perdagangan tetapi juga investasi, jasa dan rantai pasok global.
Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Johni Martha menyampaikan dorongan tersebut dalam pertemuan dengan perwakilan Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Australia Ravi Kewalram pada akhir Agustus 2026.
"Indonesia ingin IA-CEPA memberikan manfaat yang semakin besar bagi kedua negara. Kerja sama selanjutnya perlu diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan perdagangan, tetapi juga investasi, jasa dan keterhubungan dalam rantai pasok global," kata Johni dalam keterangan di Jakarta, Senin.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari proses tinjauan umum (general review) IA-CEPA yang ditandai dengan pertukaran Stage One Report atau National Report dari masing-masing negara.
Stage One Report menjadi dasar bagi kedua negara untuk mengevaluasi pelaksanaan IA-CEPA selama lima tahun pertama sekaligus mengidentifikasi area kerja sama yang masih dapat diperkuat.
Dalam laporan tersebut, Indonesia turut mengangkat sejumlah isu yang semakin relevan bagi hubungan ekonomi kedua negara, antara lain ekonomi digital, mineral kritis, lingkungan dan ketahanan pangan.
Pertukaran laporan tersebut menjadi tahap awal sebelum Indonesia dan Australia melanjutkan proses tinjauan melalui penyusunan Stage Two Report atau Joint Report.
Baca juga: Kemendag: Penandatanganan IEU-CEPA ditargetkan pada kuartal IV 2026
Baca juga: Kemendag-Kadin perkuat sinergi guna optimalkan perjanjian dagang
Kedua negara selanjutnya akan membahas hasil laporan masing-masing untuk mengidentifikasi area yang memiliki kesamaan serta peluang kerja sama baru yang dapat dikembangkan dalam rangka memodernisasi IA-CEPA.
Pada Januari-Juli 2026, total perdagangan Indonesia-Australia tercatat sebesar 8,92 miliar dolar AS. Nilai ini terdiri atas ekspor Indonesia ke Australia sebesar 2,1 miliar dolar AS dan impor Indonesia dari Australia sebesar 6,8 miliar dolar AS. Dengan demikian, Indonesia defisit perdagangan terhadap Australia sebesar 4,76 miliar dolar AS.
Sementara itu, Australia merupakan mitra dagang tujuan ekspor ke-17 dan asal impor ke-6 bagi Indonesia pada 2025. Total perdagangan Indonesia-Australia pada 2025 mencatatkan nilai sebesar 13,09 miliar dolar AS, dengan ekspor Indonesia ke Australia sebesar 3,73 miliar dolar AS dan impor Indonesia
dari Australia sebesar 9,36 miliar dolar AS.
Total perdagangan Indonesia dan Australia mencatatkan pertumbuhan sebesar 2,16 persen selama lima tahun terakhir (2021-2025).
Komoditas ekspor utama Indonesia ke Australia, yaitu mesin dan peralatan listrik, mesin dan pesawat mekanik, bahan kimia anorganik, benda-benda dari besi dan baja, serta alas kaki.
Sementara itu, komoditas impor utama Indonesia dari Australia, yaitu gandum-ganduman; bahan bakar mineral; bijih, kerak, dan abu logam; perhiasan dan permata; serta binatang hidup.
Baca juga: Wamendag ajak pelaku usaha manfaatkan perjanjian dagang internasional
Baca juga: Indonesia genjot pembinaan UMKM tembus pasar Kanada lewat ICA-CEPA
Pewarta: Maria Cicilia Galuh Prayudhia
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.