Jakarta (ANTARA) - Ada masanya sebuah buku hadir bukan sekadar memenuhi rak perpustakaan, melainkan pula sebagai sebuah peristiwa kultural dan spiritual. Buku berjudul "Transformasi Nilai-Nilai Qonun Asasi NU: Mengembangkan SDM Pesantren untuk Cita-Cita Indonesia Emas 2045" karya Dr. Nyai Hj. Lelly Lailiyah Hakim adalah contoh nyata dari fenomena tersebut.
Lahir dari rahim riset akademik yang ketat di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, buku setebal 243 halaman yang diterbitkan Pustaka Tebuireng ini langsung mendapat sambutan luar biasa dari publik, terbukti dengan cetakan kedua pada Agustus 2026 yang hanya berselang satu bulan dari cetakan pertama.
Buku ini hadir pada momentum yang terasa sangat sakral. Di satu sisi, Nahdlatul Ulama (NU) baru saja melewati Muktamar ke-35 di Jombang yang menetapkan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), yang merupakan suami sang penulis, sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026–2031. Di sisi lain, bangsa Indonesia sedang berkejaran dengan waktu menuju satu abad kemerdekaannya pada 2045.
Membaca karya Nyai Lelly seperti mengangkat kembali harta karun peradaban yang sekian lama terpendam dalam ruang-ruang domestik birokrasi organisasi.
Penulis berhasil menarik Qonun Asasi, dokumen fundamental yang ditulis oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari pada 1926, keluar dari sekadar teks teologis-romantis, lalu mengubahnya menjadi sebuah manifesto transformasi pendidikan yang visioner, ilmiah, dan sangat kontekstual untuk menjawab tantangan abad kedua NU dan masa depan republik.
Baca juga: Qanun Asasi NU, kompas ketahanan nasional di tengah tatanan dunia baru
Jembatan sejarah
Salah satu kekuatan utama analisis Nyai Lelly dalam buku ini terletak pada kemampuannya menarik persamaan historis (paralelisme sejarah) antara situasi sosial saat Hadratussyaikh menulis Qonun Asasi dengan realitas kontemporer abad ke-21.
Ketika Hadratussyaikh merumuskan Qonun Asasi pada awal abad ke-20, situasi sosial masyarakat sedang terkoyak oleh sekat-sekat kolonialisme, fragmentasi pemikiran keagamaan yang ekstrem, serta kerapuhan ekonomi umat.
Saat itu, Qonun Asasi hadir sebagai "tali pengikat" (habl) yang menyatukan hati (ta'aluf al-qulub), menegaskan pentingnya persaudaraan (ukhuwwah), dan meletakkan dasar spiritualitas yang kokoh agar umat tidak kehilangan arah di tengah gemuruh modernitas Barat yang dipaksakan oleh penjajah.
Kini, 100 tahun kemudian, dunia tidak lagi dijajah oleh bedil dan benteng fisik, melainkan oleh disrupsi global, banjir informasi, dan kapitalisme digital.
Nyai Lelly memotret dengan sangat tajam bahwa masyarakat modern hari ini sedang mengalami krisis multidimensi yang serupa, tetapi dalam wajah yang berbeda.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.