Jakarta (ANTARA) - Peneliti sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti menilai Badan Industri Mineral (BIM) bersama PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) berperan dalam mempercepat hilirisasi logam tanah jarang (LTJ) di Indonesia.
“Kedua lembaga ini sebaiknya dipahami sebagai dua kaki dari satu langkah yang sama. Keduanya diperlukan, satu kaki saja tidak cukup untuk berjalan,” ujar Yayan kepada ANTARA yang dihubungi dari Jakarta, Senin.
Yayan menyampaikan BIM memiliki peran untuk menutup kesenjangan kemampuan dalam mengelola LTJ, seperti dari segi teknologi, tata kelola, dan penanganan bahan radioaktif.
Sementara itu, Perminas memiliki peran untuk menutup kesenjangan kapasitas dan pendanaan, seperti membangun serta mengoperasikan pabrik, mengamankan bahan baku, serta pembeli.
Baca juga: Indonesia akan bangun pabrik magnet permanen dari LTJ
“Kemampuan tanpa pabrik yang layak tetap menghasilkan nol nilai. Sebaliknya, pabrik tanpa jaminan pembeli akan rugi begitu China membanjiri pasar,” ujar Yayan.
Terkait peran Perminas dalam mengamankan bahan baku, Yayan menyoroti kolaborasi BUMN tersebut bersama PT Timah.
“Perminas mengamankan bahan baku (stok monasit) PT Timah dan pasokan dari Gabon melalui mitra,” ucap Yayan.
Selain itu, lanjut dia, Perminas juga menggandeng modal melalui pendanaan Danantara, serta kerja sama teknologi dengan India dan mitra lain.
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.