Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai Nusa Tenggara Timur (NTT) prospektif dikembangkan sebagai basis produksi garam industri berskala besar untuk memperkuat kapasitas produksi nasional.
Pengembangan produksi di NTT dinilai dapat berjalan beriringan dengan penguatan sentra garam rakyat yang telah berkembang di Pulau Jawa.
“Nusa Tenggara Timur memiliki karakter berbeda berupa ketersediaan hamparan lahan yang relatif luas, kondisi agroklimat yang mendukung, serta peluang mekanisasi sehingga lebih prospektif dikembangkan sebagai basis produksi primer garam industri berskala besar,” kata Esther kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Kondisi tersebut memungkinkan pengembangan sistem produksi berskala industri dan mekanisasi yang lebih sulit diterapkan pada sebagian tambak garam rakyat di Jawa yang lahannya terfragmentasi.
Sementara itu, Pantai Utara Jawa, termasuk sentra di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, tetap memiliki posisi penting sebagai basis produksi garam rakyat, terutama untuk kebutuhan konsumsi dan industri pangan.
Ia menilai pembagian peran tersebut memungkinkan kapasitas produksi dalam negeri diperkuat sesuai dengan karakter dan keunggulan masing-masing wilayah.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan produksi garam nasional pada 2024 mencapai sekitar 2,04 juta ton.
Jawa Timur menghasilkan sekitar 863 ribu ton, Jawa Tengah 536 ribu ton, dan Jawa Barat 211 ribu ton, sedangkan NTT sekitar 15,8 ribu ton.
Pada 2025, produksi garam nasional turun menjadi sekitar 1,04 juta ton. KKP menyebut capaian tersebut dipengaruhi dinamika atmosfer yang tidak menguntungkan di sentra garam utama serta keterbatasan penerapan teknologi dan infrastruktur produksi.
Pemerintah menargetkan produksi garam nasional meningkat menjadi 2,5 juta ton pada 2026, kemudian 3,5 juta ton pada 2027 dan lima juta ton pada 2029. Artinya, produksi nasional perlu bertambah sekitar 1,46 juta ton dari realisasi 2025 untuk mencapai target tahun 2026.
Salah satu penambahan kapasitas baru ditempuh melalui pengembangan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kabupaten Rote Ndao, NTT, yang memiliki potensi area pengembangan hingga 10.764 hektare.
Pemerintah telah menyelesaikan pengembangan tahap pertama seluas 616 hektare dan melanjutkan tahap kedua seluas 751 hektare. Uji coba produksi dilakukan di lahan tahap pertama dengan panen perdana ditargetkan pada November 2026.
Dari potensi kawasan tersebut, sekitar 2.000 hektare ditargetkan dikembangkan KKP melalui pemanfaatan lahan masyarakat, sedangkan lebih dari 8.000 hektare lainnya diharapkan dikembangkan bersama investor.
K-SIGN dirancang sebagai sentra produksi modern dengan target produktivitas mencapai 200 ton per hektare per tahun.
Pengembangan kawasan tersebut menjadi bagian dari peningkatan kapasitas produksi domestik menuju target penghentian impor garam pada 2029.
Esther mengatakan percepatan produksi tidak cukup hanya mengandalkan perluasan areal, tetapi perlu ditopang teknologi, infrastruktur dan ekosistem produksi yang memadai.
“Perkembangan ini menunjukkan bahwa fondasi menuju swasembada sesungguhnya telah tersedia. Tantangannya adalah mempercepat proses tersebut melalui dukungan riset, demonstrasi teknologi, investasi, standardisasi, infrastruktur, serta kemitraan antara petambak, perguruan tinggi, pemerintah, dan industri pengguna,” kata Esther.
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.