Optimisme harus ditanamkan pada semua pihak karena kondisi di lapangan memang tidak mudah.

Jakarta (ANTARA) - Tiga pekan berlalu setelah gempa, Desa Cunca Lolos di Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, mulai beranjak dari suasana duka dan ketidakpastian.

Desa pertanian yang semula tenang itu kini berubah menjadi hamparan puing bangunan dan deretan tenda penampungan darurat.

Pemandangan rumah yang hancur dapat dengan mudah ditemui di desa yang memanjang di perlintasan Jalan Trans Flores rute Labuan Bajo-Ruteng. Hal itu menjadi bukti nyata dahsyatnya getaran gempa bumi 7,7 magnitudo, 15 Agustus.

Sebagian besar rumah berdinding bata merah tanpa plester semen tebal berdiri miring dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Mayoritas dinding berlubang cukup besar hingga rontokan materialnya berserakan di pekarangan rumah.

Untuk menahan struktur atap seng agar tidak roboh rata dengan tanah, warga menancapkan batang bambu sebesar dua kepalan tangan ke tanah sebagai penopang. Sementara itu, penghuninya harus mengungsi demi keselamatan karena bangunan tersebut tak lagi aman untuk ditempati.

Simon, warga penyintas bencana gempa bumi di Desa Cunca Lolos di Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. (ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo)

Guncangan gempa

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.