Dinkes Kabupaten Sleman bersama Puskesmas Turi dan FETP UGM telah melakukan verifikasi kasus serta investigasi. Hasil sementara dari 261 responden, 35 orang mengalami keluhan kesehatan, dan 204 responden tercatat mengonsumsi MBG

Jakarta (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman bersama Puskesmas Turi dan Field Epidemiology Training Program Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, mengungkap hasil investigasi terhadap dugaan gangguan kesehatan yang dilaporkan setelah konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG).

Gangguan kesehatan tersebut dialami penerima manfaat yang menerima MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wonokerto, Kapanewon Turi.

Berdasarkan hasil Penyelidikan Epidemiologi (PE) sementara hingga Senin (7/9) pukul 20.30 WIB, dari 261 responden terdapat 35 orang yang mengalami keluhan kesehatan, sementara 226 orang tidak mengalami keluhan. Dari jumlah tersebut, 204 responden tercatat mengkonsumsi MBG.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Kabupaten Sleman Khamidah Yuliati dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa, mengatakan verifikasi kasus dilakukan setelah pihaknya menerima notifikasi dari Puskesmas Turi.

"Dinkes Kabupaten Sleman bersama Puskesmas Turi dan FETP UGM telah melakukan verifikasi kasus serta investigasi. Hasil sementara dari 261 responden, 35 orang mengalami keluhan kesehatan, dan 204 responden tercatat mengonsumsi MBG," ujarnya.

Baca juga: Dinkes DIY kaji KLB MBG pasca-keracunan massal di Sleman

Yuli mengemukakan keluhan yang paling banyak ditemukan adalah pusing dan sakit perut masing-masing sebanyak 86 persen, disusul mual 69 persen, sakit kepala 66 persen, lemas 54 persen, dan muntah 34 persen.

Berdasarkan hasil PE sementara, terdapat satu pasien yang menjalani rawat inap di RSUD Sleman hingga pukul 20.30 WIB. Sebanyak 19 orang menjalani rawat jalan, tujuh orang berobat mandiri, dan sembilan orang tidak menjalani pengobatan.

Kasus terbanyak berdasarkan hasil PE sementara ditemukan di SMPN 3 Turi yakni 30 kasus dari 162 responden.

Yuli menjelaskan hasil analisis epidemiologi terhadap lima menu MBG belum menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik. Menu bola-bola sapi goreng memiliki ukuran asosiasi paling tinggi, tetapi belum dapat dinyatakan sebagai penyebab kejadian.

"Analisis epidemiologi terhadap menu MBG belum menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik. Bola-bola sapi goreng menunjukkan ukuran asosiasi paling tinggi dan masih menjadi bagian yang ditelusuri dalam investigasi, tetapi belum dapat dinyatakan sebagai penyebab kejadian," ucapnya.

Baca juga: Dinkes minta seluruh jasa katering di DIY kantongi SLHS

Pihaknya telah mengambil sampel makanan dan air dari SPPG Wonokerto untuk pemeriksaan laboratorium. Sampel tersebut telah dikirim pada Senin (7/9) dan hasil pemeriksaan masih ditunggu.

Sebagai langkah pencegahan, setelah menerima laporan kejadian konsumsi dan distribusi MBG pada lokasi penerima dihentikan sementara untuk mencegah bertambahnya kasus. Berdasarkan hasil pendataan sementara, terdapat 867 porsi yang telah terlanjur diterima, dibagikan, dan dikonsumsi pada enam satuan pendidikan.

Dinkes Sleman bersama pihak terkait selanjutnya masih menelusuri rantai pasok makanan, faktor lingkungan, serta analisis epidemiologi untuk mengetahui sumber dan penyebab kejadian.

"Pemkab Sleman terus memantau kondisi penerima MBG dan berkoordinasi dengan puskesmas, sekolah, SPPG, serta pihak terkait. Kesimpulan mengenai sumber dan penyebab kejadian akan disampaikan setelah seluruh hasil pemeriksaan dan investigasi diperoleh," ucap Yuli.

Baca juga: Pemkab Sleman tanggung biaya perawatan korban keracunan massal

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.