Tidak ada satu formula untuk mencapai keberhasilan. Yang penting adalah komitmen yang konsisten terhadap fondasi seperti pendidikan, teknologi dan tata kelola pemerintahan yang baik
Jakarta (ANTARA) - Chief Executive Officer (CEO) Asian Development Bank Institute (ADBI) Bambang Brodjonegoro menilai pendidikan dan penguasaan teknologi menjadi fondasi penting bagi negara-negara Asia untuk mendorong kemajuan ekonomi dan mencapai status negara maju.
Bambang mengatakan tidak ada satu formula tunggal yang dapat menjamin keberhasilan suatu negara dalam mencapai kemajuan. Menurut dia, yang lebih penting adalah komitmen konsisten dalam membangun fondasi ekonomi selama beberapa dekade.
“Tidak ada satu formula untuk mencapai keberhasilan. Yang penting adalah komitmen yang konsisten terhadap fondasi seperti pendidikan, teknologi dan tata kelola pemerintahan yang baik yang dapat membawa suatu negara maju selama beberapa dekade,” kata Bambang dalam konferensi bersama Kementerian PPN/Bappenas mengenai visi pembangunan jangka panjang negara-negara Asia di Jakarta, Selasa.
Ia mengatakan pengalaman sejumlah negara yang berhasil beralih dari kelompok berpendapatan menengah ke berpendapatan tinggi menunjukkan pentingnya pembangunan jangka panjang dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan ekonomi.
Bambang mencontohkan Polandia yang berhasil menjadi negara berpendapatan tinggi dalam satu generasi.
Menurut dia, pencapaian tersebut bukan hasil dari satu kebijakan atau reformasi, melainkan berasal dari pembangunan institusi secara berkelanjutan, kesinambungan arah reformasi ekonomi lintas pemerintahan, integrasi dengan pasar Eropa, investasi sumber daya manusia, serta kemampuan untuk terus meningkatkan kapasitas ekonomi.
Baca juga: ADBI tekankan pentingnya rantai pasok Asia untuk perkuat integrasi
Baca juga: Prabowo yakin rahasia negara bisa maju ada pada akademisi dan ilmuwan
Pengalaman serupa juga dapat dilihat dari Singapura, Jepang dan Korea Selatan.
Menurut dia, meski memiliki titik awal yang berbeda, negara-negara tersebut memiliki kesamaan berupa visi jangka panjang, investasi berkelanjutan pada sumber daya manusia, serta kemampuan beradaptasi ketika kondisi ekonomi berubah.
Bambang menilai ketika perekonomian semakin berkembang, sumber pertumbuhan juga harus berubah.
Ia menuturkan negara tidak bisa selamanya mengandalkan keunggulan ongkos produksi yang murah, akumulasi modal, maupun perpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian ke manufaktur.
Pertumbuhan yang berkelanjutan, kata dia, semakin membutuhkan peningkatan produktivitas, penguasaan teknologi, inovasi, keterampilan tenaga kerja, serta institusi yang mampu merespons perekonomian yang semakin kompleks.
Namun, dia mengingatkan strategi pembangunan yang berhasil pada generasi sebelumnya belum tentu dapat diterapkan secara utuh pada kondisi saat ini.
Lingkungan ekonomi global saat ini menghadapi fragmentasi geopolitik yang mempengaruhi perdagangan, investasi, arus teknologi, dan rantai nilai global. Pada saat yang sama, perkembangan kecerdasan artifisial (AI) dan teknologi digital mengubah sumber produktivitas dan daya saing.
Transisi menuju ekonomi rendah karbon juga menciptakan peluang baru sekaligus menimbulkan biaya penyesuaian bagi perekonomian.
Oleh karena itu, menurut Bambang, negara-negara Asia perlu memiliki arah pembangunan jangka panjang yang jelas sekaligus membangun kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan teknologi, pasar, demografi, dan lingkungan global.
“Perencanaan pembangunan jangka panjang bukan tentang memprediksi secara tepat seperti apa perekonomian 20 atau 30 tahun mendatang. Ini tentang menetapkan arah yang jelas sekaligus membangun institusi, sumber daya manusia, dan kemampuan produksi yang memungkinkan suatu negara beradaptasi,” ujarnya.
Baca juga: Airlangga: Ekonomi RI perlu tumbuh 6,7 persen capai negara maju 2045
Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.