Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard menilai pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya dikejar dari sisi angka, tetapi harus diikuti dengan penguatan kapasitas produktif agar mampu menopang perekonomian dalam jangka panjang.

Dalam konferensi bersama Bappenas dan Asian Development Bank Institute (ADBI) di Jakarta, Selasa, ia menjelaskan penguatan kapasitas produktif tersebut perlu dilakukan melalui peningkatan produktivitas, inovasi, kualitas sumber daya manusia (SDM), penguatan industri, serta kelembagaan yang lebih tangguh.

Ia menjelaskan lingkungan ekonomi global saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketegangan geopolitik yang mempengaruhi perdagangan dan investasi, perkembangan teknologi yang mengubah pola produksi dan pekerjaan, hingga perubahan iklim dan transisi energi.

Oleh sebab itu, pembangunan jangka panjang dinilai perlu diarahkan untuk membangun fondasi ekonomi yang mampu beradaptasi terhadap perubahan tersebut.

Febrian menyampaikan pemerintah Indonesia telah menetapkan arah pembangunan melalui Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) dan Visi Indonesia Emas 2045 untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap) dan menjadi negara berpendapatan tinggi.

"Namun, sebuah visi hanya akan berguna jika dapat diterjemahkan ke dalam aksi nyata," ucap dia.

"Bagi Indonesia, hal itu berarti meningkatkan produktivitas, mempercepat inovasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta membangun institusi yang mampu menopang transformasi selama beberapa dekade," katanya menambahkan.

Ia menekankan bahwa perencanaan tidak boleh hanya sebatas menghasilkan dokumen.

Perencanaan juga menurutnya harus membantu pemerintah mengambil keputusan yang lebih baik, menjadikan data dan bukti sebagai dasar kebijakan, mengantisipasi berbagai skenario, mengoordinasikan berbagai sektor, serta menyesuaikan kebijakan ketika keadaan berubah.

Lebih lanjut, Febrian menyampaikan setiap negara mempunyai jalur transformasi yang berbeda berdasarkan pengalaman masing-masing dalam industrialisasi, peningkatan produktivitas, pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia, serta penguatan institusi.

Menurutnya, Indonesia tidak perlu meniru cara negara lain, tetapi dapat saling belajar dari pengalaman negara-negara di kawasan.

Oleh sebab itu, ia menilai konferensi tersebut penting untuk membahas berbagai isu yang menentukan keberlanjutan pembangunan, mulai dari stabilitas makroekonomi, transformasi struktural, produktivitas, ketahanan ekonomi, transisi hijau, pembangunan SDM, hingga kapasitas institusi.

Baca juga: Setahun menjabat Menkeu, Purbaya: Ekonomi sudah siap tumbuh 6 persen

Baca juga: Kadin: Dunia usaha harus bergerak kejar pertumbuhan 6 persen

Baca juga: Mendagri: Pertumbuhan ekonomi kunci keluar dari middle income trap

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.