Jakarta (ANTARA) - Kementerian Transmigrasi (Kementrans) melalui Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Hasanuddin (Unhas) mendampingi 20 perempuan di Kampung Sahari, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, mengolah ikan sibula yang kurang diminati menjadi sejumlah produk pangan.
Pendampingan itu mencakup pengolahan hasil perikanan hingga teknik pengemasan. Sebanyak 20 peserta dibagi menjadi empat kelompok usaha kecil dengan peralatan produksi yang sama.
Ketua TEP Unhas Kasmiati dalam keterangannya diterima di Jakarta, Selasa, mengatakan pendampingan diarahkan agar keterampilan pengolahan dapat tetap diterapkan warga setelah kegiatan berakhir.
“Kami melakukan pendampingan intensif kepada warga agar mereka benar-benar dapat melakukan pengolahan hasil laut secara mandiri dan ke depan ini akan menjadi kemandirian ekonomi untuk mereka,” ujar Kasmiati.
Pendampingan juga menyasar nelayan laki-laki melalui pelatihan penanganan hasil tangkapan secara higienis. Peralatan yang digunakan selama kegiatan diserahkan kepada kelompok agar dapat dimanfaatkan untuk melanjutkan produksi.
Kementrans menyebut produk yang telah dibuat warga meliputi bakso, nugget, kerupuk, abon, dan sambal ikan.
Salah satu bahan bakunya adalah ikan sibula yang menurut Kementrans melimpah di perairan setempat, tetapi selama ini kurang diminati dan memiliki nilai jual relatif rendah jika hanya dipasarkan dalam bentuk segar.
Selain keterampilan mengolah ikan, TEP Unhas memberikan pendampingan mengenai sterilisasi pengemasan.
Teknik tersebut memungkinkan sambal ikan disimpan hingga empat bulan pada suhu ruang tanpa menggunakan bahan pengawet.
“Tadinya ikan hanya kami jual utuh atau untuk dimakan. Sekarang kami bisa bekerja mandiri untuk menambah ekonomi rumah tangga,” kata salah satu peserta pendampingan Nayu Ohebor.
.Warga selanjutnya berencana membentuk kelompok usaha permanen. Nayu mengatakan pembentukan kelompok tersebut akan dibahas bersama warga sebagai wadah untuk menjaga keberlanjutan produksi dan pengembangan usaha.
“Insya Allah kami bermusyawarah untuk membentuk satu kelompok usaha permanen dari hasil kegiatan ini,” ujarnya.
Program tersebut merupakan bagian dari TEP 2026 yang secara nasional melibatkan 1.476 peserta dalam 246 tim untuk bertugas di 53 kawasan transmigrasi.
Kementrans menyebut TEP tahun ini tidak hanya melakukan riset dan pemetaan, tetapi juga pendampingan serta kegiatan langsung bersama masyarakat.
Unhas merupakan salah satu dari 10 perguruan tinggi mitra Kementrans dalam TEP 2026. Kementrans mencatat Unhas mengelola 25 tim dengan 125 anggota, sedangkan kawasan Weri-Saharey di Kabupaten Fakfak menjadi salah satu lokasi penugasan peserta di bawah koordinasi Unhas.
Kegiatan TEP 2026 diarahkan antara lain pada pendampingan ekonomi produktif dan pemanfaatan teknologi tepat guna sesuai potensi kawasan transmigrasi.
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara sebelumnya mengatakan bahwa pengembangan kawasan transmigrasi perlu disesuaikan dengan karakteristik dan potensi masing-masing daerah, bukan menggunakan satu pendekatan yang seragam.
Pendekatan tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menempatkan peningkatan kualitas sumber daya manusia, inovasi, produktivitas, penguatan koperasi, serta hilirisasi sumber daya alam sebagai bagian dari pengembangan ekonomi wilayah.
Selain itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia agar masyarakat dapat mengambil peran lebih besar dalam pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.
Presiden Prabowo Subianto dalam sejumlah arahannya telah menempatkan hilirisasi sumber daya alam, ketahanan pangan, koperasi, dan penguatan ekonomi desa sebagai bagian dari strategi agar masyarakat menjadi pelaku sekaligus penerima manfaat pembangunan ekonomi.
Baca juga: TEP IPB mengembangkan pakan alternatif dan abon lele di Salor
Baca juga: Tim Ekspedisi Patriot kembangkan budi daya ikan di Pulau Simeulue
Baca juga: TEP ITS kembangkan sistem pengajuan kependudukan digital di Ransiki
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.