Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria mengatakan posisi Aceh di ujung Selat Malaka menjadi peluang strategis untuk membangun kapasitas teknologi dan ekonomi digital daerah.

Dalam keterangan pers Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang diterima pada Selasa, Nezar mengatakan Selat Malaka tidak hanya penting sebagai jalur perdagangan dunia. Kawasan itu juga menjadi bagian dari jalur infrastruktur digital global melalui kabel komunikasi bawah laut yang menghubungkan berbagai negara.

“Subsea cable yang menghubungkan internet yang kita pakai sekarang itu melintas di bawah Selat Malaka,” tutur Nezar dalam diskusi “Aceh, Selat Malaka, dan Masa Depan Digital Indonesia” di Banda Aceh, Minggu (6/9).

Baca juga: Wamenkomdigi: AI bekal wajib hadapi dinamika cara kerja era digital

Menurut Nezar, posisi geografis yang strategis tidak otomatis menghasilkan manfaat ekonomi. Aceh perlu memiliki kapasitas untuk menciptakan nilai dari posisi tersebut.

“Yang penting bukan lagi Selat Malaka sebagai anugerah geografis. Pertanyaannya adalah bagaimana kita menciptakan nilai dari Selat Malaka itu,” tegasnya.

Nezar mencontohkan infrastruktur kabel bawah laut yang melintasi Selat Malaka. Infrastruktur tersebut menghubungkan lalu lintas data antarnegara dan menjadi bagian penting dari ekosistem internet.

Baca juga: Wamenkomdigi tekankan pentingnya tata kelola AI di sektor keuangan

Namun, titik gateway utama saat ini banyak terkonsentrasi di Singapura. Kondisi tersebut, menurut Nezar, perlu menjadi bahan pemikiran bagi Indonesia untuk melihat peluang pengembangan infrastruktur dan ekosistem digital di wilayah sekitar jalur strategis tersebut.

“Kenapa gateway-nya tidak ada di Sabang atau di tempat-tempat yang berada dalam kontrol kita? Ini menjadi pertanyaan yang perlu kita jawab,” kata Nezar.

Ia mengatakan Aceh memiliki modal awal untuk mengambil peluang tersebut, antara lain perguruan tinggi, komunitas teknologi, talenta muda, serta posisi geografis yang berhadapan langsung dengan jalur perdagangan dan konektivitas internasional.

Baca juga: Wamenkomdigi nilai ilmu filsafat akan relevan dalam perkembangan AI

Kementerian Komdigi menempatkan pengembangan talenta dan kewirausahaan berbasis teknologi sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem digital di daerah.

Melalui Garuda Spark Innovation Hub di Banda Aceh, talenta lokal dapat memperoleh akses pembinaan, jejaring bisnis, pengembangan produk, hingga peluang bertemu investor.

Nezar mengatakan teknologi tidak harus selalu hadir dalam bentuk inovasi yang kompleks. Teknologi dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan konkret, termasuk di sektor perikanan, pertanian, perdagangan, dan layanan pemerintahan.

Baca juga: Nezar ungkap tiga aspek wujudkan "AI driven security" di Indonesia

“Yang kita butuhkan adalah value creation. Penciptaan nilai dari berbagai sumber daya yang ada melalui teknologi, keterampilan, dan inovasi,” ujar Nezar.

Ia berharap generasi muda Aceh melihat posisi geografis daerahnya sebagai peluang untuk membangun masa depan melalui penguasaan teknologi, kemampuan menciptakan produk, serta keterhubungan dengan ekosistem global.

“Jangan hanya melihat Selat Malaka sebagai jalur yang dilewati. Kita harus mampu mengambil nilai dari sana,” katanya.

Baca juga: Wamenkomdigi ungkap strategi Indonesia jadi "pemain" AI berdaya saing

Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.