Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengajak negara lain untuk saling berkolaborasi melalui skema co-development, dalam rangka memperkuat teknologi secara bersama-sama di negara masing-masing.
Kepala BRIN Arif Satria mengungkapkan co-development menjadi salah satu langkah yang diimplementasikan olehnya, di samping penguatan dukungan riset dan teknologi terhadap UMKM dan industri, guna menuju Indonesia Emas 2045.
"Co-development itu kita harapkan dari berbagai negara, sehingga kita mengundang hari ini para duta besar negara-negara yang memang memiliki sejumlah teknologi unggulan. Dan teknologi ini sebagian besar bisa kita terapkan di Indonesia melalui proses co-development bersama BRIN dan para periset di Indonesia untuk diterapkan (demi) berbagai keperluan pembangunan kita," kata Kepala BRIN dalam kegiatan Kick-Off Indonesia Innovation Summit & Expo (IISE) 2026 di Jakarta, Selasa.
Arif optimistis Indonesia bisa menjadi negara maju jika co-development segera dilakukan bersama dengan negara maju. Ia menyebut saat ini terdapat berbagai teknologi yang sudah dikuasai oleh negara-negara maju, dan juga sebaliknya.
Ia menilai momentum ini merupakan waktu yang tepat untuk berkolaborasi dalam rangka membangun kekuatan teknologi bersama yang diterapkan di Indonesia.
"Dalam konteks inilah kemudian kita ini telah membangun kontribusi pada industri, kontribusi UMKM maka kita bisa melihat ada tipe-tipe teknologi seperti apa yang akan kita kembangkan," ujarnya.
Untuk mendukung UMKM, lanjut Arif, seluruh pihak yang terkait harus berkolaborasi agar fenomena putusnya jembatan antara dunia riset dan industri atau yang disebutnya sebagai "the valley of death" tidak terjadi di Indonesia.
"Inilah yang harus kita pecahkan sehingga bagaimana BRIN harus mampu mentransformasi agar inovasi ini bisa semakin berdampak," ucapnya melanjutkan.
Arif memaparkan agar inovasi bisa menjadi berdampak, maka ada beberapa hal yang senantiasa diupayakan oleh BRIN.
Di antaranya adalah bagaimana riset bisa bermanfaat dari laboratorium ke kehidupan nyata (from lab to life) kemudian dari dunia riset ke dunia industri (from research to industry) kemudian dari purwarupa sampai bisa dipasarkan (from prototype to market) dan bagaimana pemanfaatan pengetahuan itu untuk diubah menjadi kesejahteraan masyarakat (from knowledge to prosperity).
"Dampak ini menjadi orientasi dari BRIN hari ini, sehingga yang selalu kita ukur adalah seberapa besar riset-riset dan teknologi kita hasilkan itu bisa membawa kemanfaatan bagi kehidupan kita sehari-hari. Bagaimana riset juga bisa dirasakan manfaatnya oleh ibu-ibu di dapur, oleh petani-petani di sawah, maupun oleh para astronot, para kosmonot yang memang memiliki misi di luar angkasa. Inilah spektrum yang saya kira sangat luas di BRIN," kata dia.
"Sehingga dengan orientasi BRIN itulah BRIN selalu berperan bagaimana memiliki dampak pada ilmu pengetahuan, bagaimana BRIN memiliki dampak pada kebijakan pemerintah, bagaimana BRIN punya dampak pada industri dan bagaimana BRIN berdampak kepada masyarakat," tutur Arif Satria.
Baca juga: Pakar Biologi Konservasi UI Jatna Supriatna raih Sarwono Award 2026
Baca juga: Kepala BRIN kemukakan berbagai hasil riset untuk perkuat proyek GSW
Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.