PISA bukan tujuan akhir pendidikan Indonesia, melainkan alat ukur penting untuk menilai kesiapan murid menghadapi kehidupan nyata, sehingga kenaikan peringkat pada bidang sains dan membaca patut menjadi penyemangat, sementara rendahnya kompetensi min

Jakarta (ANTARA) - Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 kembali menghadirkan cermin bagi pendidikan Indonesia yang membantu kita melihat kemajuan yang perlu dijaga, persoalan yang harus diselesaikan, dan kekuatan murid Indonesia untuk melompat lebih jauh.

Respons terbaik terhadap hasil PISA bukan memperdebatkan peringkat semata karena peringkat dapat berubah mengikuti jumlah dan komposisi negara peserta. Hal yang lebih penting adalah membaca kecenderungan capaian, proporsi murid yang mencapai kompetensi minimum, serta faktor yang memengaruhi pembelajaran.

Ukuran keberhasilan kita bukan seberapa ramai PISA dibicarakan, melainkan seberapa cepat temuannya diterjemahkan menjadi perbaikan nyata.

Jernih

Pada PISA 2025, skor sains Indonesia mencapai 389, meningkat enam poin dibandingkan tahun 2022. Skor membaca juga naik enam poin menjadi 365, sedangkan matematika berada pada angka 364 atau turun dua poin.

Di tengah penurunan capaian banyak negara, kenaikan poin pada bidang sains dan membaca serta kestabilan relatif pada matematika menunjukkan pemulihan pembelajaran mulai bergerak, meskipun belum cukup kuat.

Pada Tahun 2003, PISA baru merepresentasikan sekitar 46 persen anak Indonesia usia 15 tahun dalam pendidikan formal. Pada Tahun 2025, cakupannya mencapai 90 persen. Indonesia berhasil membawa lebih banyak anak ke dalam sistem pendidikan sambil menjaga capaian relatif stabil. Perluasan akses ini merupakan kemajuan sosial yang patut dihargai.

Hanya saja, stabilitas itu tidak boleh membuat kita berpuas diri. Proporsi murid yang mencapai kompetensi minimum baru 36,81 persen untuk bidang sains, 27,11 persen untuk membaca, dan 16,93 persen untuk matematika.

Dari data itu, pesannya tegas: pekerjaan terbesar bukan hanya menaikkan skor rata-rata, tetapi memastikan lebih banyak murid mampu memahami informasi, bernalar, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan berdasarkan bukti.

PISA menemukan modal yang menjanjikan. Murid Indonesia menunjukkan keingintahuan yang tinggi, kemandirian belajar, dan kemampuan baik dalam pemecahan masalah komputasional. Mereka terbiasa belajar menilai kredibilitas konten hasil dari kecerdasan artifisial (AI). Kemampuan tersebut penting dalam menghadapi perubahan kehidupan dan dunia kerja.

Baca juga: Umumkan skor PISA terbaru, Kemendikdasmen: Skor membaca-sains naik

Baca juga: UNESCO ingatkan skor PISA RI masih rendah, meski mayoritas melek huruf

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.