Jakarta (ANTARA) - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai elektrifikasi armada dan alat berat pertambangan semakin dibutuhkan untuk memperkuat ketahanan industri menghadapi ketidakpastian geopolitik dan energi global.
“Apa yang sebelumnya hanya percontohan kini menjadi kebutuhan operasional,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Aryo Djojohadikusumo dalam Energy Insights Forum di Jakarta, Rabu.
Ia mengatakan gejolak geopolitik dapat memengaruhi anggaran, proyeksi keuangan, hingga ketahanan usaha perusahaan pertambangan.
Menurut dia, bahan bakar, baik diesel, bensin, maupun produk olahan minyak bumi lainnya, memiliki peran besar terhadap arus kas dan keberlangsungan kegiatan usaha pertambangan.
Baca juga: IESR: Elektrifikasi dan pengurangan BBM subsidi berikan banyak manfaat
Aryo menyebut pelaku industri saat ini tidak hanya menghadapi kenaikan harga bahan bakar akibat gejolak global, tetapi juga persoalan dalam memperoleh pasokan bahan bakar.
Kondisi tersebut, menurut dia, membuat pelaku industri perlu memperkuat ketahanan terhadap faktor eksternal yang sulit dikendalikan, termasuk perubahan geopolitik yang memengaruhi pasar energi.
Sejumlah perusahaan pertambangan, lanjut Aryo, telah mulai mengelektrifikasi armada maupun alat berat sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan usaha dalam jangka panjang.
Ia mengakui elektrifikasi dapat membutuhkan biaya lebih tinggi, tetapi menilai langkah tersebut lebih baik dibandingkan terus menghadapi ketidakpastian yang berasal dari faktor eksternal.
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.