Beijing (ANTARA) - Pemerintah China telah mengirimkan bantuan kemanusiaan gelombang keempat bagi penyelamatan korban banjir bandang di Nepal.
"Untuk mendukung upaya penyelamatan dan memberikan bantuan di Nepal, China sudah mengirimkan pagi ini gelombang keempat bantuan darurat, termasuk peralatan transportasi dan penerangan serta perlengkapan kamar mayat. Di seluruh China, bantuan sedang dalam perjalanan ke Nepal," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, Selasa (8/9).
Banjir bandang melanda wilayah utara Nepal pada Rabu pagi (26/8) setelah aliran air deras menyapu masuk ke Sungai Bhotekoshi. Banjir tersebut terjadi setelah gletser mengalami penyusutan yang kemudian memicu tanah longsor.
"Yayasan Pembangunan Pedesaan China juga telah mengirimkan orang-orang ke komunitas yang terkena dampak di Nepal untuk mendirikan tempat penampungan sementara dan menyediakan kebutuhan sehari-hari serta layanan medis dasar," ungkap Mao Ning.
Sementara itu, Asosiasi Perusahaan China di Nepal baru-baru ini mengirimkan gelombang pertama dana yang disumbangkan untuk operasi bantuan.
Mao Ning juga menyebut pemerintah China telah membolehkan media asing untuk meliput ke daerah bencana di Gyirong, Daerah Otonom Xizang yang sebelumnya tertutup bagi orang asing, khususnya jurnalis asing. Jurnalis asing yang ingin masuk ke Daerah Otonom Xizang untuk meliput harus punya izin khusus dari kementerian terkait, pemeriksaan pun dilakukan sejak di bandara asal.
"Setelah jalan-jalan baru saja dibersihkan pemerintah China mengundang jurnalis dari delapan media asing, termasuk NBC, CNN, Reuters, RT, dan PTI, untuk memasuki area inti guna melihat langsung dampak bencana dan kemajuan dalam penyelamatan, pemulihan, dan rekonstruksi," ungkap Mao Ning.
Mao Ning menyebut jurnalis asing itu juga menghadiri wawancara yang diadakan oleh pemerintah Daerah Otonom Xizang.
"Saya yakin Anda telah melihat laporan media dari media-media tersebut," tambahnya.
Mao Ning menegaskan China akan melanjutkan upaya pencarian dan penyelamatan habis-habisan untuk menangani dampak bencana dan memberikan informasi terkini tepat waktu tentang situasi di lapangan dan operasi penyelamatan.
Sebelumnya, pemerintah China telah mengirimkan tenda, selimut, lemari pendingin kamar mayat, pakaian pelindung medis, dan peralatan komunikasi satelit bagi penanganan korban di Nepal.
Pemerintah Tiongkok juga mengirimkan dua kelompok ahli forensik DNA untuk membantu Nepal. Daerah Otonomi Xizang telah mengirimkan dua jembatan Bailey (jembatan rangka baja portabel yang dapat dirakit dengan cepat) ke Nepal.
"Setelah bencana tersebut, Administrasi Meteorologi Tiongkok (CMA) segera menjalin kontak dengan Departemen Hidrologi dan Meteorologi Nepal dan melakukan konsultasi cuaca melalui tautan video dan berbagi informasi secara 'real-time'," ungkap Mao Ning.
Jumlah korban tewas akibat banjir bandang dahsyat di Nepal dan China bertambah menjadi 1.355 orang seperti dilaporkan China Central Television (CCTV). Sebanyak 4.996 orang masih dinyatakan hilang dalam bencana alam tersebut.
Jumlah korban tewas akibat tanah longsor dan banjir bandang di Daerah Otonom Tibet di China telah mencapai 43 orang, sementara 519 lainnya masih dinyatakan hilang, lapor China Central Television (CCTV).
Banjir bandang melanda perbatasan Nepal-China pada 26 Agustus setelah sebuah gletser pada ketinggian 5.200 meter pecah dari Gunung Langtang Lirung di Nepal.
Baca juga: Korban meninggal banjir Nepal capai 1.355 orang
Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.