Ini suatu kenyataan bahwa data adalah komoditas yang sangat mahal dan bernilai tinggi.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengatakan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) memiliki peran strategis bagi pemerintah dan pihak-pihak terkait lainnya dalam memahami dinamika pasar kerja.

Menaker dalam keterangannya, di Jakarta, Rabu, menilai data yang akurat diperlukan untuk memperoleh gambaran kondisi ketenagakerjaan secara tepat.

“Ini suatu kenyataan bahwa data adalah komoditas yang sangat mahal dan bernilai tinggi,” ujar Yassierli.

Menurut dia, pemanfaatan data Sakernas mencakup empat fungsi strategis yang saling berkaitan. Pertama, data digunakan untuk memantau kondisi pasar kerja secara terintegrasi dengan platform SIAPkerja.

Kedua, data digunakan untuk mendiagnosis persoalan ketenagakerjaan, termasuk mendeteksi ketidaksesuaian keterampilan (skill mismatch) antara kualifikasi lulusan dan kebutuhan industri.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa data juga dapat digunakan untuk merencanakan kebutuhan tenaga kerja dan intervensi program secara lebih presisi.

“Dengan data yang akurat, kita dapat merancang kebijakan spesifik berupa School-to-Work Transition atau transisi dari pendidikan ke dunia kerja melalui Program Magang Nasional dan Pelatihan Vokasi,” ujar Yassierli.

Selain itu, ia mengatakan, data digunakan untuk memperkuat basis argumen dalam penyusunan kebijakan dan koordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait.

Mengingat pentingnya pemanfaatan data tersebut, Menaker Yassierli menginstruksikan Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan (Barenbang) Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) untuk responsif dalam mengelola dan memanfaatkan data yang tersedia.

Di sisi lain, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menegaskan komitmen BPS untuk terus menyediakan data statistik ketenagakerjaan yang berkualitas.

Lebih lanjut, ia mengatakan BPS juga memperkuat kolaborasi strategis dengan kementerian/lembaga serta Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) di Jakarta untuk menyajikan gambaran ketenagakerjaan yang utuh dan akuntabel.

“Data statistik bukan sekadar deretan angka, melainkan fondasi utama untuk memahami persoalan, mengidentifikasi tantangan, sekaligus merumuskan arah kebijakan yang tepat sasaran,” kata Amalia.

Baca juga: Soal data serapan tenaga kerja, Menaker: Tunggu hasil Sakernas

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.