Jakarta (ANTARA) - Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID menjelaskan pentingnya perusahaan pertambangan untuk tetap menjalankan eksplorasi sebagai fondasi untuk mengetahui dan mengembangkan potensi sumber daya mineral.

Wakil Direktur Utama MIND ID Dany Amrul Ichdan mengatakan pelaku usaha pertambangan perlu terus mengevaluasi kegiatan eksplorasi yang dilakukan setiap tahun, seiring berkembangnya industri dari pertambangan hingga hilirisasi.

“Kalau perusahaan tambang sudah melupakan eksplorasi, berarti perusahaan itu sudah kehilangan rohnya,” kata Dany dalam Energy Insights Forum di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, eksplorasi merupakan bagian mendasar dari kegiatan pertambangan karena menentukan kemampuan perusahaan dalam menemukan dan mengembangkan sumber daya untuk kegiatan usaha pada masa mendatang.

Karena itu, Dany mengajak pelaku industri untuk melihat kembali sejauh mana masing-masing perusahaan tetap menjalankan eksplorasi.

“Coba kita mesti refleksi ke dalam, kita sebagai pelaku tambang. Apakah kita sudah melakukan eksplorasi belum per tahunnya?” ujarnya.

Dany juga memandang eksplorasi sebagai investasi perusahaan, bukan sekadar biaya, sehingga hasilnya perlu dikaitkan dengan nilai ekonomi dan keberlanjutan bisnis pertambangan.

Dalam mendukung kegiatan tersebut, ia menilai aspek perizinan dan rencana kerja pertambangan perlu memberikan ruang yang memadai bagi eksplorasi.

“Supaya eksplorasi itu jalan, maka penerbitan IUP juga harus agresif. RKAB juga harus agresif,” ucapnya.

IUP merupakan Izin Usaha Pertambangan, sedangkan RKAB adalah Rencana Kerja dan Anggaran Biaya yang menjadi bagian dari perencanaan kegiatan usaha pertambangan.

Dalam konteks komoditas nikel, Dany mengatakan pengaturan RKAB perlu mempertimbangkan kebutuhan perusahaan untuk menjalankan kegiatan eksplorasi.

“Terutama RKAB nikel, ya kan, harus terbuka,” ujarnya.

Namun, Dany tidak menyebut besaran kuota produksi nikel maupun mengusulkan angka tambahan produksi tertentu dalam paparannya.

Dany mengatakan Indonesia memiliki basis sumber daya mineral yang kuat. Menurut dia, keunggulan tersebut perlu dikembangkan menjadi nilai tambah melalui rantai industri yang terintegrasi, mulai dari pertambangan, pengolahan, hilirisasi, hingga pengembangan material maju.

Baca juga: Izin Freeport diperpanjang, Bahlil: Untuk eksplorasi cadangan baru

Baca juga: ANTAM meningkatkan eksplorasi Tambang Pongkor jelang pascatambang

Berdasarkan Neraca Sumber Daya dan Cadangan Mineral dan Batubara Indonesia Tahun 2025 yang memuat data hingga Desember 2024, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat sumber daya bijih nikel Indonesia mencapai sekitar 19,16 miliar ton, sedangkan cadangannya sekitar 5,91 miliar ton

Dari total cadangan tersebut, sekitar 3,58 miliar ton atau 61 persen merupakan bijih dengan kadar nikel sedikitnya 1,5 persen, sedangkan sekitar 2,33 miliar ton atau 39 persen memiliki kadar nikel di bawah 1,5 persen.

Badan Geologi pada April 2026 menyebut Indonesia memiliki lebih dari 40 persen cadangan nikel dunia, yang menempatkan Indonesia pada posisi strategis dalam rantai pasok nikel global.

Sementara itu, pemerintah melakukan penataan RKAB dengan mempertimbangkan keseimbangan antara produksi, kebutuhan industri, harga komoditas, dan keberlanjutan cadangan mineral.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada Agustus 2026 memastikan terdapat perubahan kuota produksi melalui revisi RKAB. Namun, pemerintah tidak mengungkap besaran perubahan tersebut untuk menghindari gejolak harga komoditas di pasar internasional.

Sementara itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno pada Juli 2026 mengatakan penambahan kuota produksi nikel tidak dilakukan secara umum, kecuali untuk memenuhi kebutuhan fasilitas pengolahan yang masih kekurangan pasokan.

“Untuk nikel tidak ada kenaikan, kecuali hanya mengejar yang untuk smelter yang masih kekurangan suplai,” ujar Tri.

Kementerian ESDM menegaskan setiap perubahan RKAB dievaluasi berdasarkan data produksi, kebutuhan industri, kondisi pasar, serta keseimbangan rantai pasok nasional. Pemerintah juga mempertimbangkan keberlanjutan cadangan agar produksi tidak tumbuh berlebihan.

Baca juga: J Resources catat kenaikan cadangan emas enam kali lipat

Baca juga: MIND ID uji coba teknologi kecerdasan buatan untuk eksplorasi mineral

Baca juga: Perusahaan tambang swasta tingkatkan eksplorasi di Sulut

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.