Jakarta (ANTARA) - Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi Dr. dr. Andy Darma Sp.A Subsp.GH(K) menyebut bahwa Gut-Brain Axis (GBA) semakin menunjukkan keterkaitan antara sistem saraf, sistem imun, dan mikrobiota dalam tubuh.

"Memang betul gut-brain axis itu berhubungan. Jadi sistem saraf berhubungan dengan sistem imun, sistem imun berhubungan dengan mikrobiota," kata Andy saat ditemui ANTARA di Jakarta usai mengikuti sebuah sesi temu media di Jakarta, Rabu.

Gut-brain axis (GBA) merupakan sistem komunikasi dua arah antara saluran cerna dan otak. Melalui mekanisme ini, kondisi saluran cerna, termasuk mikrobiota usus, dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh, termasuk regulasi emosi, perilaku, dan fungsi kognitif.

Sebaliknya, kondisi psikologis dan fungsi otak juga dapat memengaruhi fungsi saluran cerna. Hubungan yang kompleks ini menunjukkan bahwa kesehatan saluran cerna tidak hanya penting bagi kesehatan fisik, tetapi juga berperan dalam mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.

Baca juga: Pentingnya jaga mikrobiota usus di tengah tingginya kelahiran caesar

Andy menjelaskan hubungan ketiga komponen tersebut menjadi penting karena makanan yang tepat termasuk prebiotik dan probiotik yang seimbang dapat mendukung fungsi saluran cerna.

Menurut dia, usus dapat menghasilkan sejumlah neurotransmitter penting salah satunya serotonin yang dapat memberikan rasa nyaman di otak.

"Jadi tadi yang dibilang kan kalau kenyang anak menjadi tenang, dan itu memang benar. Tapi kalau (terlalu) kekenyangan kan enggak bagus ya," ujarnya.

Sebaliknya, Andy menilai gangguan pada otak juga dapat disertai masalah pada saluran cerna. Dia bercerita terdapat pasien dengan gangguan pada otak yang juga mengalami masalah pada saluran cerna karena adanya sinyal-sinyal tertentu yang tidak muncul.

Ia juga mencontohkan kondisi pada anak usia di bawah lima bulan yang sebelumnya sering disebut infantile colic dan kini disebut infant distress syndrome.

Perubahan penyebutan tersebut berkaitan dengan pemahaman bahwa kondisi tersebut tidak hanya dipandang sebagai masalah pada usus tetapi juga dapat berkaitan dengan distress akibat anak menghadapi situasi baru setelah lahir.

Baca juga: GIC jadi platform multidisiplin ilmu guna bahas mikrobiota usus-biotik

Andy menggambarkan perubahan lingkungan yang dialami bayi setelah lahir mulai dari kondisi yang sebelumnya hangat dan tenang di dalam kandungan hingga menghadapi berbagai rangsangan setelah lahir. Misalnya, saat dalam kandungan bayi dapat tertidur dalam situasi gelap.

Namun ketika dilahirkan, orang tua justru menaruhnya tertidur dalam kondisi lampu selalu menyala. Hal ini dapat menimbulkan stres pada bayi.

Dengan demikian, dokter lulusan Universitas Airlangga itu mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam memberikan penjelasan kepada orang tua karena informasi yang keliru dapat diterjemahkan secara berbeda. Terutama bagi para ibu baru yang saat ini memiliki pertanyaan yang semakin kritis sehingga tenaga kesehatan perlu berhati-hati dalam menjelaskan informasi.

"Jadi kita juga harus berhati-hati dalam hal menjelaskan. Karena penjelasan yang salah diterjemahkan secara salah juga," katanya.

Baca juga: Benarkah anak terlahir caesar sistem imunnya terganggu?

Baca juga: Probiotik bisa jaga kesehatan mikrobiota yang terganggu akibat polutan

Baca juga: Menjaga saluran cerna anak demi tumbuh kembang optimal

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.