Jakarta (ANTARA) - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) menilai penggunaan bahan bangunan rendah emisi menjadi bagian penting dalam mempercepat penerapan konstruksi berkelanjutan di Indonesia.

Direktur Operasi SIG Reni Wulandari mengatakan penerapan bangunan hijau tidak cukup hanya mengandalkan standar dan kerangka penilaian, tetapi perlu diwujudkan sejak pemilihan material hingga proses konstruksi.

“Transisi menuju konstruksi rendah emisi membutuhkan kolaborasi seluruh rantai nilai, sekaligus ketersediaan solusi bahan bangunan untuk berbagai kebutuhan proyek,” kata Reni dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, upaya menekan emisi pada sektor konstruksi juga perlu ditopang proses produksi material yang lebih efisien dan memanfaatkan sumber daya secara berkelanjutan.

Perusahaan menyatakan telah menerapkan prinsip ekonomi sirkular dalam proses produksinya, antara lain dengan memanfaatkan bahan bakar alternatif berupa sampah perkotaan yang diolah menjadi refuse-derived fuel (RDF), limbah industri, dan biomassa.

Perseroan mencatat tingkat substitusi termal atau thermal substitution rate (TSR) pada pabrik-pabriknya telah mencapai 25 persen.

Tingkat tersebut menunjukkan porsi energi panas yang dapat digantikan oleh bahan bakar alternatif dalam proses produksi.

Selain melalui bahan bakar alternatif, SIG memanfaatkan energi baru terbarukan di sejumlah wilayah operasional melalui panel surya serta optimalisasi gas panas buang menggunakan teknologi pembangkit listrik dari panas buang atau Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG).

Perusahaan juga menerapkan digitalisasi pabrik untuk mengoptimalkan proses produksi dan meningkatkan efisiensi.

Salah satu teknologi yang digunakan adalah sistem pengoptimal pabrik yang telah diterapkan di sejumlah fasilitas produksi dan direncanakan diperluas ke pabrik lainnya.

Reni mengatakan rangkaian langkah tersebut diarahkan untuk menghasilkan bahan bangunan dengan intensitas emisi yang lebih rendah tanpa mengurangi kualitas sesuai peruntukannya.

Berdasarkan catatan perseroan, produk semen rendah emisi yang dihasilkan SIG memiliki intensitas emisi hingga 38 persen lebih rendah dibandingkan semen konvensional. Sejumlah produk tersebut juga telah memperoleh sertifikasi Green Label.

Selain semen, SIG mengembangkan berbagai produk beton dan bahan bangunan turunan semen untuk memenuhi kebutuhan konstruksi dengan mempertimbangkan efisiensi penggunaan material dan aspek keberlanjutan.

Perseroan juga menyatakan produk-produknya telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) lebih dari 90 persen.

Reni menilai penerapan prinsip keberlanjutan menjadi semakin penting seiring kebutuhan pembangunan infrastruktur dan gedung yang tetap memperhatikan efisiensi sumber daya serta penurunan emisi.

Upaya memperluas pemahaman mengenai bangunan hijau tersebut turut dilakukan SIG bersama Green Building Council Indonesia (GBCI) melalui Indonesia Green Building Festival 2026.

Rangkaian kegiatan dijadwalkan berlangsung di Bandung pada 9 September, Yogyakarta 14 September, Makassar 24 September, Denpasar 26 September, serta Surabaya pada 29 September 2026.

Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperluas penerapan prinsip bangunan hijau di kalangan pelaku industri, termasuk dalam pemilihan bahan bangunan dan penerapan proses konstruksi yang lebih berkelanjutan.

Baca juga: Kementerian ESDM: Bangunan hijau berkontribusi turunkan emisi karbon

Baca juga: Membangun kota rendah emisi lewat bangunan gedung hijau

Baca juga: Menko IPK dorong industri konstruksi pilar pembangunan berkelanjutan

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.