Jakarta (ANTARA) - Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) memperkuat kolaborasi dengan pelaku industri untuk mengembangkan ekosistem seni pertunjukan agar tidak hanya menjadi ruang ekspresi budaya, tetapi juga mampu menciptakan nilai ekonomi secara berkelanjutan.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar mengatakan kolaborasi lintas subsektor, termasuk dengan perusahaan produksi (production house/PH), diperlukan untuk menemukan model bisnis yang dapat membuat ekosistem kreatif tumbuh secara efisien dan berkelanjutan.
"Kita perlu mencari titik temu yang memungkinkan ekosistem kreatif tumbuh secara efisien dan berkelanjutan. Bukan hanya membangun potensi yang sudah tercipta, tetapi juga memastikan model bisnis kreatif bisa berjalan," kata Irene dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, seni pertunjukan dan film memiliki ekosistem yang saling menguatkan. Seni pertunjukan dapat menjadi ruang pengembangan talenta sekaligus sumber penciptaan kekayaan intelektual (IP) yang kemudian dikembangkan ke medium lain, termasuk film.
"Dengan begitu, kita tak sekadar meningkatkan budaya publik untuk nonton teater di gedung seni pertunjukan maupun nonton film di ruang putar, tetapi juga memberikan soft landing bagi investor untuk masuk ke subsektor seni pertunjukan dan subsektor film," ujarnya.
Kolaborasi tersebut dilakukan Kemenekraf bersama Keana Film yang selama ini bergerak di bidang seni pertunjukan dan perfilman. Salah satu potensi yang dikembangkan adalah IP Laksamana Malahayati yang direncanakan bertransformasi dari pertunjukan panggung menjadi komik dan film layar lebar melalui kolaborasi internasional.
Irene menilai pengembangan IP lintas medium dapat memperpanjang nilai ekonomi sebuah karya sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi pelaku ekonomi kreatif.
"Seni pertunjukan dan film sebenarnya berada dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. Subsektor seni pertunjukan bukan hanya ruang ekspresi budaya, tetapi juga dapat menjadi sumber penciptaan IP, pengembangan talenta, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi para pejuang ekraf," katanya.
Selain pengembangan IP, Kemenekraf juga mendorong pemanfaatan teknologi dan penguatan distribusi sebagai bagian dari ekosistem. Salah satunya melalui konsep Indiskop Bioskop Rakyat yang mengintegrasikan film, seni pertunjukan, budaya, dan pendidikan.
Menurut Irene, digitalisasi distribusi, penjualan tiket, serta pengelolaan yang terpusat dapat membantu menekan biaya operasional sekaligus memperluas jangkauan karya kreatif ke berbagai daerah.
Direktur Utama Keana Film Marcella Zalianty mengatakan pihaknya berfokus pada pengembangan dua spektrum ekonomi kreatif, yakni seni pertunjukan dan film.
Menurut dia, pengembangan IP lintas medium dapat menjadi salah satu cara membawa karya lokal ke pasar global.
"Keana Film bisa menjadikan suatu IP lokal go global karena konten yang universal dan pantas membawa identitas Indonesia mendunia," tutur Marcella.
Sementara itu, Keana Film juga menyiapkan sejumlah program seni dan budaya pada 2026–2027, antara lain Monolog Melati Pertiwi, Kongres Perempuan di Yogyakarta, serta CULTURA Festival di Taman Mini Indonesia Indah yang turut diarahkan untuk memberdayakan UMKM lokal.
Irene mengatakan penguatan ekosistem seni pertunjukan pada akhirnya perlu diarahkan agar karya tidak berhenti pada satu pertunjukan, melainkan dapat berkembang menjadi IP yang memiliki nilai ekonomi dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Dengan keterhubungan antara seni pertunjukan, film, pengembangan IP, talenta, teknologi, dan distribusi, Kemenekraf berharap terbentuk rantai industri kreatif yang lebih berkelanjutan sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan kerja bagi pelaku ekraf.
Baca juga: Kemenekraf perluas pasar ekraf melalui kerja sama strategis dengan AS
Baca juga: Kemenekraf dorong Human-Centric AI demi jaga kreativitas manusia
Baca juga: Kemenekraf dorong jenama lokal mampu bersaing di kawasan premium
Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.