Jakarta (ANTARA) - Indonesia mendukung terpilihnya Menteri Luar Negeri Bangladesh Khalilur Rahman sebagai presiden Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) dan berharap berbagai mandat yang telah ditetapkan untuk setahun ke depan dapat terlaksana dengan baik.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Vahd Nabyl A. Mulachela, ditemui di Kantor Kemlu RI, Jakarta, Kamis, mengatakan keterlibatan Indonesia di Majelis Umum PBB sangat penting, karena majelis itu merupakan satu dari enam organ utama PBB dengan keanggotaan paling luas dari jumlah negara.
"Tentu, terpilihnya menlu Bangladesh sebagai presiden UNGA akan mengawal berbagai mandat yang harus dijalankan untuk setahun ke depan," kata Nabyl.
Baca juga: Presiden baru Majelis Umum PBB janji jalankan tugas sesuai piagam
Sebagai anggota PBB dengan banyak kepentingan, Indonesia mendukung agar program-program yang telah ditetapkan dapat terlaksana melalui berbagai komite di bawah UNGA.
"Indonesia, sebagai anggota dari PBB dan juga memiliki banyak kepentingan, mendukung agar semua program-program yang sudah ditetapkan untuk setahun ke depan itu bisa terlaksana dari berbagai komite-komite di bawah General Assembly," ucap Nabyl.
Sidang ke-80 Majelis Umum PBB pada 2025 dipimpin oleh Annalena Baerbock, yang juga menjabat sebagai menlu Jerman pada saat itu. Baerbock telah mengakhiri masa tugasnya dan digantikan oleh Menlu Bangladesh Khalilur Rahman sebagai presiden Sidang ke-81 Majelis Umum PBB.
Baca juga: Sidang ke-81 Majelis Umum PBB fokus pulihkan kepercayaan multilateral
Rahman menyampaikan komitmen terhadap Piagam PBB selama menjalankan tugasnya dan berupaya mencari titik temu di antara negara-negara anggota.
"Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, kepemimpinan saya akan sangat berpegang teguh pada Piagam PBB. Saya akan sepenuhnya setia pada piagam tersebut, serta pada mandat yang diberikan negara-negara anggota kepada PBB," kata Rahman kepada wartawan pada Selasa (8/9).
Dia juga menekankan perlunya mempersiapkan PBB menghadapi masa depan.
"Saya tidak naif dengan berpikir bahwa semuanya dapat diselesaikan dengan cepat dan secara damai. Ada persoalan yang tetap belum terselesaikan. Ada hal-hal yang mungkin perlu waktu untuk menemukan solusinya. Itu tidak masalah. Namun, hal itu tidak boleh menghalangi kita untuk mencari titik temu di mana pun kita bisa dan itulah yang akan terus saya upayakan," ujar Rahman.
Baca juga: Selesai jabat sekjen tahun ini, Guterres harap PBB ciptakan perdamaian
Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.