Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pengembangan kawasan percontohan Agro Techno Park (ATP) pada lahan bekas tambang di Kalimantan Timur guna mendukung ketahanan pangan bagi Ibu Kota Nusantara (IKN).

Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Santoso, menjelaskan bahwa inisiatif tersebut tidak sekadar membuktikan ternak bisa hidup, tetapi bertujuan untuk menemukan model pertanian terpadu yang paling sesuai.

"Kita tidak ingin sekedar membuktikan bahwa ternak dapat dipelihara di lahan bekas tambang. Yang lebih penting adalah mengetahui model seperti apa yang tepat," katanya dalam diskusi yang diikuti secara daring di Jakarta, Kamis.

Santoso menyebut pihaknya menaruh perhatian terhadap kekhawatiran terkait pemenuhan gizi masyarakat setempat, mengingat produksi pangan di kawasan Kalimantan Timur saat ini masih tergolong sangat kurang.

Baca juga: Pemerintah hitung ulang ketahanan pangan RI petakan dampak El Nino

Lebih lanjut Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Peternakan BRIN, Sindu Akhadiarto mencontohkan bahwa pada tahun lalu pasokan beras lokal baru mampu mencukupi sekitar 38 persen dari total kebutuhan masyarakat.

"Jadi apalagi nanti ada IKN. Jadi alangkah baiknya kalau kita bisa memanfaatkan lahan bekas tambang," ujarnya.

Sindu menuturkan, pembangunan kawasan percontohan ATP di lahan eks tambang ini akan menerapkan konsep circular bioeconomy, yang mengintegrasikan sektor peternakan, perikanan, hortikultura, hingga tanaman pangan.

Menurut dia, salah satu potensi luar biasa dari lahan tersebut adalah pemanfaatan lubang bekas galian tambang batu bara (void), yang airnya sangat jernih dan dapat digunakan untuk budi daya perikanan, seperti ikan patin.

Melalui kolaborasi positif antara BRIN, pemerintah daerah, dan perusahaan tambang, Sindu berharap kawasan ini mampu menjadi mesin biologis pendorong kemandirian pangan nasional, khususnya dalam menyokong kebutuhan wilayah IKN ke depan.

Baca juga: Surabaya andalkan urban farming perkuat ketahanan pangan

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.