Jakarta (ANTARA) - Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai kebijakan pemerintah tetap mempertahankan harga BBM subsidi dapat menjaga inflasi, dan ini dinilai menjadi mitigasi yang tepat.

"Kebijakan pemerintah yang mempertahankan harga BBM bersubsidi dan juga LPG bersubsidi ini sebetulnya bagus untuk menjaga inflasi," kata Faisal saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, penyesuaian harga BBM maupun LPG subsidi akan memicu inflasi sehingga apa yang dilakukan pemerintah dengan tidak menaikkan harga dinilai tepat untuk menekan inflasi.

Meskipun kata dia, pemerintah juga harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk memastikan BBM dan LPG subsidi tetap terjangkau oleh masyarakat, walaupun terjadi ketidakpastian pasar terhadap harga minyak global.

"Pada umumnya begitu penyesuaian harga BBM yang bersubsidi ini biasanya langsung mendorong inflasi tinggi sekali," ujarnya.

Selain menjaga harga kata Faisal, pemerintah juga perlu memastikan pasokan BBM maupun LPG subsidi tetap aman dan dapat dijangkau oleh masyarakat.

Karena ujar Faisal, meski harga tidak naik namun ketika terjadi kelangkaan BBM dan LPG subsidi, maka akan menimbulkan kenaikan harga, sehingga menyebabkan harga-harga kebutuhan akan naik dan terjadi inflasi.

"Yang dapat menyebabkan inflasi seringkali karena kuantitas atau volumenya itu juga tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat," katanya.

Baca juga: Pertamina ambil alih SPBU nakal untuk perketat pengawasan BBM subsidi

Baca juga: Bahlil tegaskan rencana pembatasan Pertalite masih dalam kajian

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Selasa (2/6/2026), IHK pada Mei 2026 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,28 persen secara bulanan (month to month/mtm), sehingga secara tahunan IHK mengalami inflasi sebesar 3,08 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Inflasi inti pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,22 persen (mtm), sedikit lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,23 persen (mtm).

Perkembangan inflasi inti tersebut dipengaruhi terutama oleh kenaikan harga minyak goreng di tengah ekspektasi inflasi yang tetap terjaga.

Secara tahunan, inflasi inti pada Mei 2026 tercatat sebesar 2,59 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 2,44 persen (yoy).

Inflasi kelompok administered prices terutama disumbang oleh komoditas bahan bakar rumah tangga, bensin, dan tarif angkutan udara seiring dengan penyesuaian harga liquefied petroleum gas (LPG) nonsubsidi, bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, dan avtur akibat kenaikan harga energi global.

Secara tahunan, kelompok administered prices tercatat inflasi sebesar 2,07 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 1,53 persen (yoy).

Baca juga: Dirjen Migas minta BBM subsidi tepat waktu dan sasaran di Sultra

Baca juga: Pertamina gandeng pemda pastikan distribusi BBM subsidi tepat sasaran

Pewarta: Khaerul Izan
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.