Jakarta (ANTARA) - Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian mendorong percepatan pembangunan sabo dam untuk memperkuat perlindungan warga Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Menurut Tito, Kecamatan Tukka membutuhkan sistem pengendalian aliran air dan sedimen dari kawasan perbukitan untuk mengurangi risiko bencana susulan ketika hujan deras.

"Penanganan di wilayah hulu ini harus kita percepat. Jangan sampai ketika hujan deras turun, aliran air dan material kembali turun dan berdampak ke masyarakat," kata Tito dalam keterangan di Jakarta, Kamis.

Pernyataan tersebut disampaikan Tito setelah meninjau pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Tapanuli Tengah pada Kamis.

Tito mengatakan Tapanuli Tengah menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam penanganan pascabencana di Sumatera Utara.

Pengendapan material lumpur akibat bencana sebelumnya berdampak pada permukiman, perkantoran, sekolah, rumah ibadah, hingga persawahan.

Menurut Tito, pembangunan infrastruktur pengendali sedimen di kawasan Aek Tukka dan Sigala-gala menjadi bagian penting dari sistem perlindungan kawasan.

Pada tahap awal, kata dia, pembangunan infrastruktur pengendali sedimen di Aek Tukka dan Sigala-gala ditargetkan selesai pada Desember 2026.

Tito mengatakan penguatan sistem pengendalian sedimen akan dilanjutkan melalui pembangunan infrastruktur tambahan.

"Setelah itu, tahun depan dibangun lagi dua. Jadi totalnya empat, khusus Sabo Dam di Kecamatan Tukka," ujarnya.

Pembangunan infrastruktur pengendali sedimen tersebut berjalan beriringan dengan normalisasi sungai dan pembangunan dinding penahan (retaining wall) sepanjang 1,6 kilometer.

Infrastruktur tersebut diperlukan untuk memperkuat perlindungan kawasan dari aliran air dan material yang berpotensi kembali mengancam permukiman.

Selain penguatan infrastruktur di kawasan hulu, pemerintah juga melakukan pemulihan rumah warga dan fasilitas pelayanan dasar yang terdampak bencana.

Tito mengatakan seluruh program pemulihan di Tapanuli Tengah perlu dilaksanakan secara paralel, mulai dari penguatan infrastruktur di hulu dan normalisasi sungai hingga pemulihan berbagai fasilitas terdampak.

Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum pada Mei 2026, penanganan di Sungai Aek Tukka mencakup pembangunan sabo dam Sungai Tukka, pengendalian sedimen Anak Sungai Tukka atau Sungai Sigala-Gala, serta pembangunan prasarana pengendalian banjir Sungai Tukka.

Sabo dam dibangun untuk menahan material sedimen, batu, kayu, dan tanah dari kawasan hulu agar tidak terbawa aliran menuju permukiman warga ketika intensitas hujan tinggi.

Baca juga: Satgas PRR: Jembatan Kutablang mulai masuk tahapan pengaspalan

Baca juga: Satgas PRR catat 649 unit hunian tetap di Aceh telah rampung

Baca juga: Satgas PRR monitor penyaluran anggaran K/L untuk rehab-rekon Sumatera

Pewarta: Fianda Sjofjan Rassat
Editor: Edy Sujatmiko
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.