Patahan tidak perlu menjadi sumber ketakutan baru. Keberadaannya justru dapat menjadi pengingat bahwa kota tangguh bukan kota tanpa risiko, melainkan kota yang mengenali risikonya dan terus mengurangi kerentanannya.
Surabaya (ANTARA) - Kota besar dibangun dengan berbagai upaya untuk mengendalikan risiko. Jalan diperlebar, sungai ditata, gedung diperkuat, dan teknologi digunakan untuk meningkatkan keamanan.
Namun, ada risiko yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan manusia, yakni pergerakan bumi.
Perbincangan mengenai patahan di Kota Surabaya, Jawa Timur mengingatkan bahwa kota ini tidak sepenuhnya bebas dari risiko geologi. Informasi mengenai sesar yang melintasi Surabaya, Sidoarjo, hingga Bangkalan menyebar luas, terutama melalui media sosial.
Di tengah arus informasi tersebut, masyarakat perlu menempatkan dua hal secara seimbang. Tidak perlu panik, tetapi risiko juga tidak boleh diabaikan. Kesiapsiagaan harus dibangun berdasarkan data, kajian ilmiah, dan latihan yang nyata.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya menyebut jalur patahan Kendeng memiliki dua segmen yang berkaitan dengan Surabaya, yakni Segmen Surabaya dan Segmen Waru. BPBD juga rutin melakukan sosialisasi kesiapsiagaan di permukiman, sekolah, dan perkantoran.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG Rozikan menyebut pemutakhiran data geologi, geofisika, dan geodesi yang dirujuk dalam peta Pusat Studi Gempa Nasional 2024 mengenali struktur tersebut sebagai bagian dari sistem patahan yang telah ada sejak lama.
Yang perlu dipahami adalah keberadaan patahan tidak otomatis berarti gempa besar akan segera terjadi. Pusat Survei Geologi juga mencatat perlunya integrasi serta validasi data dalam pemetaan patahan di Surabaya dan sekitarnya.
Karena itu, komunikasi risiko menjadi penting. Informasi ilmiah tidak seharusnya disederhanakan menjadi anggapan bahwa Surabaya sedang menunggu gempa besar atau sebaliknya sama sekali tidak memiliki ancaman.
Risiko berada di antara kedua pemahaman tersebut.
Baca juga: Surabaya terancam gempa dari dua patahan yang membesar? Ini faktanya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.