Jakarta (ANTARA) - Pemerintah saat ini tengah melakukan program hilirisasi kakao untuk meningkatkan nilai tambah serta peremajaan perkebunan kakao rakyat guna mendongkrak produktivitas kebun petani yang menurun karena rata-rata berumur tua.

Direktur Perbenihan Perkebunan, Kementerian Pertanian, Ebi Rulianti, mengatakan sebagai produsen kakao dunia, posisi Indonesia turun drastis dari nomor 3 dunia kini berada di urutan 7 dengan produksi sebanyak 200 ribu ton.

Penyebabnya, lanjut dia dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, banyak tanaman yang produktivitasnya menurun karena sudah berumur tua. Rata-rata produktivitas kakao dalam negeri 700-800 kilogram (kg) per hektare (ha), padahal di negara lain mencapai 1,5 ton/ha.

Oleh karena itu, menurut dia, pemerintah telah membuat program hilirisasi kakao dari 2025 - 2027 menyasar 247.260 ha lahan kakao petani guna memastikan pasokan bahan baku untuk industri hilir.

Baca juga: Kemenko Pangan siapkan kerangka Perpres program strategis kakao

"Ada dua program utamanya yakni peremajaan kakao rakyat dan perluasan lahan kakao," katanya dalam webinar Hari Kakao Nasional: Momentum Mendorong Hilirisasi untuk Kesejahteraan Petani.

Pada 2025 terlaksana perluasan areal kebun kakao sekitar 200 ha dan peremajaan 4.066 ha, sementara 2026 pemerintah menargetkan perluasan areal sekitar 71.722 ha dan peremajaan 102.488 ha.

Sedangkan 2027 dengan target 59.974 ha terdiri perluasan 19.700 ha dan peremajaan 40.274 ha.

Dalam program hilirisasi tersebut, pemerintah memberikan bantuan benih sebanyak 1.000 batang per hektare dan bantuan upah kerja.

Pewarta: Subagyo
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.