Jakarta (ANTARA) - Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno menyampaikan hadirnya buku "Filosofi Orang Kampung" karya sastrawan Harry Tjahjono menjadi penting karena dapat mendokumentasikan nilai-nilai kehidupan masyarakat yang semakin jarang ditemukan di tengah perubahan Jakarta.
"Misalnya, interaksi antartetangga, suasana lingkungan, dialek lokal, hingga kebiasaan masyarakat merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu terus dikenalkan kepada generasi berikutnya," kata dia dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Jumat.
Menurut Rano, tontonan layar kaca saat ini kerap kehilangan keaslian nuansa kampung; banyak adegan menampilkan keseharian yang janggal dan terasing dari realitas warga kita yang bersahaja.
Oleh sebab itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendorong Harry agar terus berkarya menyusun ensiklopedia dan seri lanjutan, agar nilai-nilai luhur perkampungan tetap terdokumentasi rapi bagi generasi penerus.
Rano mengatakan, Pemprov DKI Jakarta mendukung berbagai kegiatan literasi dan pelestarian budaya yang dilakukan para pelaku seni dan masyarakat.
Dokumentasi mengenai sejarah dan kehidupan kampung dinilai dapat memperkuat pengetahuan masyarakat tentang perjalanan budaya Jakarta sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga identitas kota di tengah perkembangan Jakarta sebagai kota global.
Baca juga: Kampung Budaya Betawi Sukapura jadi ruang pelestarian budaya
“Kehadiran buku karya sahabat saya ini sangat penting karena mempertemukan kembali gagasan awal cerita Si Doel yang dirintis almarhumah Ibu Ida Farida, serta memantik kembali penghargaan sejarah terhadap karya sastrawan besar Aman Datuk Madjoindo," kata Rano.
Dia mengatakan, Harry Tjahjono berhasil memperluas ekosistem cerita dengan menghadirkan karakter ikonis seperti Mandra, Atun, Karyo, hingga Pak Bendot, sehingga atmosfer perkampungan terasa nyata.
Sementara itu, Harry Tjahjono mengatakan, buku “Filosofi Orang Kampung” lahir dari kegelisahannya terhadap keberadaan masyarakat Betawi di tengah perubahan Jakarta.
Kendati menghadapi keterbatasan fisik pascaserangan stroke, ia tetap produktif berkarya dengan menuntaskan dua buku baru dan merencanakan pembaruan aransemen 30 karya musik tempo dulu.
Dia mengatakan, kondisi kesehatannya justru memberi motivasi dalam menghasilkan ragam novel, puisi, novelet, hingga puluhan lagu bertema Betawi.
"Lagu-lagu tersebut rencananya akan diproduksi ulang pada bulan Januari mendatang,” kata Harry.
Baca juga: Mandra akan buka kafe "gaya kampung" Betawi "Dapur Ngaciiir"
Baca juga: Kampung Condet unggul pertahankan keaslian budaya Betawi
Baca juga: "Andilan Kebo" ajarkan pentingnya jaga tradisi gotong-royong
Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Syaiful Hakim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.