Petasol ini bukan proyek penelitian, tapi pemanfaatannya sudah terbukti di tingkat akar rumput.
Jakarta (ANTARA) - Kemandirian energi yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto sepertinya mulai menemukan jawaban bukan hanya dari kebun sawit, tapi dari tumpukan sampah dan limbah sawah.
Dalam salah satu pidato Presiden pada Juli, Prabowo menyebut profesor-profesor Indonesia tengah mengembangkan bensin dari kelapa sawit serta etanol dari singkong, jagung, dan sorgum, dengan target dalam tiga hingga empat tahun ke depan bangsa ini mampu menghasilkan bahan bakar dari tanaman.
Visi itu sebenarnya sudah disampaikan oleh Presiden sejak pelantikannya pada Oktober 2024 ketika ia menyebut singkong, tebu, dan sagu sebagai sumber energi alternatif yang bisa mengurangi kebergantungan pada bahan bakar fosil impor.
Di luar daftar tanaman pangan yang disebut Presiden, dua inovasi anak negeri justru sudah melangkah lebih jauh dengan bahan baku yang berasal dari limbah. Satu berasal dari jerami kering yang biasa dibakar petani setelah panen, satu lagi dari sampah plastik yang selama ini mencemari lingkungan.
Keduanya menjadi jalan menuju swasembada energi yang tidak harus dimulai dari menanam baru, tetapi bisa dimulai dari mengolah apa yang sudah terbuang.
Bobibos, akronim dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos, lahir dari riset mandiri M Ikhlas Thamrin selama lebih dari sepuluh tahun sebelum akhirnya diperkenalkan ke publik di Jonggol, Kabupaten Bogor, pada November 2025 di bawah bendera PT Inti Sinergi Formula.
Tim risetnya sempat mencoba tebu, singkong, dan mikroalga sebagai bahan baku, namun jerami padi terbukti paling efisien dari sisi biaya produksi karena ketersediaannya melimpah di seluruh sentra pertanian Indonesia.
Hasil uji Lembaga Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM pada April 2026 mencatat angka oktan riset atau RON 98,1 untuk varian bensinnya menggunakan metode ASTM D 2699-19e1. Capaian tersebut membuat Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM meminta Bobibos fokus mengembangkan lini bensin terlebih dahulu.
Karena bahan bakunya berasal dari zat organik tumbuhan, pembakaran Bobibos diklaim nyaris tidak menyisakan emisi gas buang, sehingga menjadi alternatif yang jauh lebih bersih dibanding bahan bakar berbasis fosil.
Dampak ekonominya menyentuh langsung petani padi. Satu hektare sawah yang menghasilkan sekitar sembilan ton jerami diklaim mampu diolah menjadi sekitar tiga ribu liter Bobibos, mengubah limbah pertanian yang tadinya hanya dibakar menjadi komoditas baru bernilai jual.
Skala dampaknya bahkan sudah menembus batas negara di mana PT Inti Sinergi Formula menjalin kerja sama dengan Timor Agranova SA untuk mengembangkan dan memproduksi massal Bobibos di Timor Leste.
Sekaligus menjadikan Bobibos sebagai salah satu inovasi energi nabati Indonesia pertama yang diminati pasar regional.
Uji coba lapangan pun telah dilakukan pada berbagai jenis kendaraan, dari sepeda motor Honda BeAT hingga truk bermesin diesel Nissan Navara. Bahkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turut mencobanya langsung pada traktor diesel di Lembur Pakuan dengan hasil tarikan mesin yang lebih ringan dan asap buang yang lebih bersih.
BBM dari sampah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.