Harus ada pendekatan kepada masyarakat untuk adanya suatu pengertian politis dengan baik agar masyarakat mengerti pembangunan Papua itu dibangun secara bersama-sama

Yogyakarta (ANTARA) - Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Muhammad Jusuf Kalla mendorong pendekatan politis kepada masyarakat Papua untuk mendukung pembangunan dan penyelesaian persoalan keamanan di wilayah tersebut.

“Harus ada pendekatan kepada masyarakat untuk adanya suatu pengertian politis dengan baik agar masyarakat mengerti pembangunan Papua itu dibangun secara bersama-sama,” kata Jusuf Kalla seusai menghadiri pelantikan Pengurus PMI DIY periode 2026–2031 di Yogyakarta, Minggu.

Ia menanggapi penembakan tiga aparatur sipil negara (ASN) di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, beberapa waktu lalu.

Baca juga: Profil 3 pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya yang tewas ditembak

Menurut Ketua Umum PMI Pusat itu, pemerintah telah mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk pembangunan Papua guna mendorong kemajuan wilayah Indonesia bagian timur.

“Kalau dibandingkan, katakanlah Papua dengan Papua Nugini, ya jauh lebih baik kita. Seperti itu, sehingga perlu diberikan suatu pengertian yang betul kepada mereka yang KKB itu,” katanya.

Jusuf Kalla mengatakan pendekatan politis kepada masyarakat Papua dan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) perlu dilakukan secara damai untuk membangun pemahaman bersama mengenai pembangunan dan masa depan Papua.

Baca juga: TNI AD evaluasi sistem pengamanan pasca penembakan di Jayawijaya

Ia menilai pendekatan tersebut perlu diutamakan sebelum pemerintah mengambil langkah keamanan lebih lanjut apabila kelompok bersenjata tetap melakukan kekerasan.

“Dan apabila mereka masih begitu, tentu balasannya operasi daripada aparat kita, TNI, Kepolisian. Tapi dua pihak perlu ada upaya pengertian politis secara baik, secara damai. Di mana-mana kita bisa menyelesaikan itu,” katanya.

Baca juga: PP GMKI desak pelaku penembakan ASN di Jayawijaya ditindak tegas

Baca juga: PGI kecam kekerasan terhadap warga sipil di Tanah Papua

Pewarta: Hery Sidik
Editor: Abdul Hakim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.