Deli Serdang (ANTARA) - Anggota DPR RI Sugiat Santoso menilai pengembangan bawang merah yang dilakukan Pondok Pesantren Al-Hidayah di Desa Mencirim, Deli Serdang, Sumatera Utara, merupakan langkah strategis untuk mendukung ketahanan dan kemandirian pangan nasional.
Menurut dia, pencapaian kemandirian pangan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk pesantren dan lembaga pendidikan, dalam memanfaatkan lahan yang tersedia.
“Kalau seandainya semua institusi pendidikan di luar binaan negara melakukan seperti yang dilakukan
Pondok Pesantren Al-Hidayah memanfaatkan lahan yang ada untuk ketahanan pangan, saya pikir apa yang menjadi target pemerintah akan lebih cepat tercapai,” katanya di Deli Serdang, Minggu.
Sugiat juga mendorong agar hasil pertanian tidak berhenti pada penjualan bahan mentah. Bawang merah hasil budidaya dapat dikembangkan menjadi produk olahan untuk meningkatkan nilai tambah dan pendapatan.
“Jangan langsung dijual mentah. Kalau bisa dihilirisasi dengan bawang goreng yang packaging-nya keren, tentu nilainya jauh lebih mahal,” ujar politikus Gerindra itu.
Selain bawang merah, Sugiat mengapresiasi pengembangan aren yang dilakukan Pondok Pesantren Al-Hidayah.
Menurut dia, pengembangan komoditas pertanian sekaligus konservasi tersebut menunjukkan potensi pesantren sebagai pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pelestarian lingkungan.
Ia menyatakan siap mendorong kolaborasi dalam pengembangan Pondok Pesantren Al-Hidayah melalui kebijakan, dukungan anggaran, jaringan kelembagaan dan kerja sama dengan berbagai pihak.
“Kami berharap kehadiran kami di sini bisa bermanfaat bagi pesantren ini, baik dalam kerangka kebijakan, anggaran, jaringan maupun bentuk kolaborasi lainnya,” katanya.
Sebelumnya Pimpinan Pondok Pesantren Al-Hidayah, Khairul Ghazali, mengatakan, pihaknya memiliki pengalaman dalam budidaya bawang merah.
Saat pandemi Covid-19, pesantren pernah mengembangkan bawang merah dengan pendampingan Bank Indonesia dan memperoleh hasil yang baik.
“Dulu pada waktu Covid, saya pernah menanam bawang langsung di bawah binaan Bank Indonesia dan sukses. Kami menerapkan sistem yang dipandu para ahli pertanian bawang yang dihadirkan Bank Indonesia,” ujarnya.
Khairul mengatakan, pengembangan bawang merah saat ini merupakan bentuk kontribusi pesantren dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus membantu menjaga stabilitas harga komoditas yang berpengaruh terhadap inflasi.
Selain bawang merah, Pondok Pesantren Al-Hidayah juga mengembangkan tanaman aren sebagai tanaman konservasi sekaligus sumber pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ribuan pohon aren telah ditanam di kawasan pesantren dan hasilnya mulai diolah menjadi berbagai produk, seperti gula cetak, gula semut dan kolang-kaling.
Baca juga: Guru besar IPB dorong pesantren Probolinggo pelopor ketahanan pangan
Baca juga: Wamentan dorong pesantren jadi mitra strategis ketahanan pangan
Baca juga: Utusan Presiden apresiasi pesantren di Garut terapkan ketahanan pangan
Pewarta: Juraidi
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.