Jakarta (ANTARA) - Dua buku yang ditulis oleh Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ngurah (AAGN) Ari Dwipayana diluncurkan di Auditorium Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia di Jakarta, Minggu.
Kedua buku tersebut berjudul Tandur Taru Urip: Mengakar Kuat, Menjulang Tinggi dan Panca Kertha: Manifesto Pemikiran tentang Transformasi PHDI.
Peluncuran buku diawali dengan pidato pembuka (keynote speech) oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta Nasruddin Djoko Surjono.
Kedua buku dibedah oleh Rektor Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja Prof Dr I Gede Suwindia, Rektor Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar Dr Cokorda Gde Bayu Putra dan Rektor Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Gde Pudja Mataram Prof Dr I Wayan Wirata.
Baca juga: Ari Dwipayana: Mahasabha titik balik pulihkan marwah PHDI
Ari Dwipayana mengatakan peluncuran tersebut tidak semata-mata memperkenalkan dua buku, tetapi diharapkan menjadi pasamuan (pertemuan) gagasan untuk membaca perjalanan, mendiskusikan keadaan hari ini, serta memikirkan masa depan umat Hindu dan Indonesia.
Buku berjudul Tandur Taru Urip merupakan kumpulan orasi ilmiah yang mempertemukan ilmu pengetahuan, agama, dan kebudayaan. Metafora taru atau pohon kehidupan menggambarkan pentingnya memiliki akar kuat pada dharma, sejarah, kebudayaan dan kearifan Nusantara, sekaligus berani menjulang tinggi memasuki dunia ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan perubahan zaman.
“Mengakar kuat bukan berarti kembali ke masa lalu. Menjulang tinggi juga bukan berarti meninggalkan akar,” kata Ari.
Sementara itu, buku berjudul Panca Kertha berisi tentang masa depan PHDI sebagai rumah bersama umat Hindu Indonesia.
Menjelang Mahasabha (Munas) XIII Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Ari mengajak umat tidak hanya memperdebatkan siapa yang akan memimpin, tetapi menjawab pertanyaan yang lebih mendasar, misalnya PHDI seperti apa yang dibutuhkan umat Hindu hari ini dan di masa depan?.
Dari pertanyaan tersebut lahir Panca Kertha (lima prinsip) Transformasi PHDI, yakni pulihkan marwah, satukan umat, rawat kebhinnekaan, benahi tata kelola, dan berdayakan umat.
Lima agenda tersebut merupakan undangan untuk berdialog dan bekerja bersama, bukan agenda seorang figur atau kelompok tertentu.
Baca juga: Mahasiswa Hindu anugerahi Ari Dwipayana sebagai tokoh inspiratif
Baca juga: Ari Dwipayana terima Prajaniti Dharmaraha Award 2026
Ari menegaskan bahwa persatuan Hindu Nusantara tidak boleh dimaknai sebagai penyeragaman. Keragaman tradisi, dresta (adat), tata titi (aturan), komunitas, dan ekspresi kebudayaan justru merupakan kekayaan yang harus dirawat dalam rumah bersama.
Menurut Ari, benang merah kedua buku tersebut sederhana, yakni buku Tandur Taru Urip berbicara tentang akar, sedangkan buku Panca Kertha berbicara tentang rumah.
Umat Hindu membutuhkan akar yang kuat agar tidak tercerabut sekaligus rumah yang kokoh agar seluruh keragaman Hindu Nusantara dapat tumbuh bersama.
“Mari kita rawat akar, kita kuatkan rumah bersama, dan kita tumbuhkan masa depan Hindu Nusantara. Mengakar kuat, menjulang tinggi. Pulihkan marwah, satukan umat, rawat kebhinnekaan, benahi tata kelola, dan berdayakan umat,” kata Ari
Pewarta: Santoso
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.