Surabaya memang tidak dapat menentukan kapan hujan turun. Namun, kota ini dapat menentukan seberapa siap warganya menghadapi musim kemarau, seberapa bijak air dimanfaatkan, seberapa cepat potensi api dicegah, dan seberapa tangguh sistem publik beker
Surabaya (ANTARA) - Bagi kota besar, hujan bukan sekadar perubahan cuaca, melainkan fenomena yang menyentuh segala aspek mulai dari air keran, suhu jalan, kondisi ruang terbuka, dan risiko kebakaran, hingga kemampuan pemerintah dalam menjaga layanan dasar.
Karena itu, ketika musim hujan berpotensi datang lebih lambat, persoalannya bukan hanya kapan hujan turun, tetapi seberapa siap kota menunggu.
Kota Surabaya, Jawa Timur kini menghadapi fase tersebut. Pemerintah kota bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat kesiapsiagaan menghadapi El Nino yang diprakirakan bertahan hingga Februari 2027. Dampaknya dapat berupa kondisi lebih kering dan kemunduran awal musim hujan.
Peringatan tidak berhenti pada urusan cuaca. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya mengingatkan meningkatnya risiko kebakaran, paparan panas, dehidrasi, dan tekanan terhadap ketersediaan air bersih. Edukasi dilakukan melalui sekolah, pesantren, lingkungan warga, hingga media sosial.
El Nino 2026 diprediksi bertahan setidaknya hingga awal kuartal I 2027 dengan puncak intensitas melebihi kategori kuat. September menjadi periode penting karena sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam musim kemarau, dengan curah hujan rendah yang diprakirakan masih mendominasi sejumlah wilayah.
Artinya, masyarakat tidak sedang diminta menunggu hujan secara pasif. Jeda musim harus dihadapi dengan kesiapan agar kondisi kering tidak berkembang menjadi persoalan pelayanan dasar.
Baca juga: Akademisi: Pertahankan kondisi tanaman jaga hijauan pakan saat kemarau
Menjaga air
Persoalan pertama adalah air. Ketika curah hujan berkurang, tekanan tidak selalu langsung terlihat sebagai kekeringan. Dampaknya dapat muncul melalui berkurangnya cadangan air, meningkatnya kebutuhan rumah tangga, dan bertambahnya beban menjaga pasokan.
BMKG memprakirakan September hingga November 2026 secara umum mengalami curah hujan rendah hingga menengah dengan sifat hujan bawah normal hingga normal. Di Jawa Timur, El Nino juga berpotensi menurunkan curah hujan pada periode Juni hingga November 2026.
Bagi Surabaya, kondisi itu perlu diantisipasi karena kepadatan permukiman, aktivitas ekonomi, kebutuhan rumah tangga, dan fasilitas publik membuat gangguan pasokan air mudah meluas menjadi persoalan sosial.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.