Jakarta (ANTARA) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mencatat rata-rata harga minyak nasional dari Januari–September 2026 berada di kisaran 85–90 dolar AS per barel.

Angka tersebut lebih tinggi daripada asumsi makro yang termaktub di dalam APBN 2026 sebesar 70 dolar AS per barel.

“Rata-rata nasional dari Januari sampai dengan September itu kurang lebih sekitar 85–90 dolar AS per barel,” ucap Bahlil dalam acara Innovation Technology for Social and Environmental Awards (InTechSEA) yang digelar di Jakarta, Senin.

Sementara itu, lanjut dia, hari ini harga minyak dunia telah menyentuh angka 106 dolar AS per barel.

Bahlil menyampaikan kondisi tersebut mendorong Indonesia untuk mengamankan pasokan minyak impor dari Rusia. Terlebih, pemerintah berkomitmen untuk menjaga harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak berubah hingga akhir tahun 2026.

“Ini urusan energi ini urusan hajat hidup orang banyak. Kita harus mampu membuat rumusan kebijakan yang sekalipun kondisi global itu terjadi yang luar biasa, kepastian harga harus kita jamin. Ujung kesimpulannya adalah kita sekarang mendapat crude (minyak mentah) dari beberapa negara, termasuk Rusia,” kata Bahlil.

Ia menegaskan Indonesia menganut politik luar negeri bebas aktif. Oleh karena itu, lanjut dia, tidak boleh ada satu pun negara yang mengintervensi atau mengatur keputusan Indonesia.

“Yang penting barang ada dan murah. Itu paling penting. Urusan ini mau dari laut sana, laut sini, langit sana, epenkah (penting kah)? Enggak penting,” ujar Bahlil.

Dikutip dari Kantor Berita Rusia, Sputnik, harga minyak mentah jenis Brent naik lebih dari 3 persen menjadi 107,77 dolar AS per barel pada awal perdagangan, menyusul penundaan pertemuan terkait pelayaran di Selat Hormuz.

Hingga pukul 22:03 GMT, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November diperdagangkan naik 3,16 persen dari penutupan sebelumnya ke posisi 107,77 dolar AS per barel.

Baca juga: Analis: Harga minyak tekan selera risiko investor ke "emerging market"

Baca juga: Ekonom: Kenaikan harga minyak dunia beri beban kompensasi subsidi BBM

Baca juga: Bahlil: Impor minyak Rusia jalan selama ekonomis dan sesuai aturan

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.