Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) siap melaksanakan pelatihan bagi 120 fasilitator nasional dan 1.700 fasilitator daerah guna mendukung pemberian layanan psikososial bagi satuan pendidikan terdampak gempa di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) Kemendikdasmen, Saryadi mengatakan sebanyak 857 satuan pendidikan dengan jumlah peserta didik sebanyak 101.888 menyatakan membutuhkan pendampingan psikososial.
Baca juga: Khofifah dorong pendampingan psikososial bagi lansia korban gempa NTT
“Pemulihan anak-anak tidak berhenti pada tersedianya ruang kelas. Karena itu, dalam waktu dekat, Kemendikdasmen akan melaksanakan pelatihan bagi 120 fasilitator nasional yang difokuskan pada dukungan psikososial dan pemulihan pembelajaran pascagempa bumi,” kata Suryadi dalam Taklimat Media Perkembangan Penanganan Bencana NTT di Bidang Pendidikan secara Zoom di Jakarta Pusat, Senin.
Lebih lanjut, ia menjelaskan penyediaan fasilitator untuk mendukung layanan psikososial tersebut siap menyasar sebanyak 51 ribu pendidik dan tenaga kependidikan di 7 kabupaten terdampak gempa.
Saryadi menambahkan pelatihan tersebut disiapkan oleh Balai Guru dan Tenaga Kependidikan Provinsi Nusa Tengagra Timur yang bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Diponegoro (Undip).
Selain itu, Kemendikdasmen juga mendapat dukungan dari Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) serta berbagai mitra pembangunan dalam pelaksanaan pemulihan pendidikan di wilayah terdampak.
Baca juga: Kemensos berikan layanan psikososial bagi anak SD korban gempa di Poso
Baca juga: Baznas berikan layanan dukungan psikososial bagi anak korban gempa NTT
Pada kesempatan itu, ia mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi NTT yang mengalokasikan sebesar Rp2,4 miliar dari Bantuan Presiden bagi NTT guna pemberian dukungan layanan psikososial bagi guru dan tenaga kependidikan serta pemulihan kegiatan pembelajaran.
Pihaknya memastikan proses pemulihan pendidikan pascagempa tidak hanya berorientasi pada pemulihan sarana dan prasarana, namun juga memperhatikan kondisi psikologis peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan.
Dengan begitu, satuan pendidikan di wilayah terdampak gempa dapat secara bertahap kembali menyelenggarakan pembelajaran dengan kondisi yang aman sekaligus mendukung pemulihan peserta didik.
Pewarta: Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.