Bengkulu memang masih berada dalam kondisi yang relatif terkendali
Bengkulu (ANTARA) - Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia beberapa waktu terakhir kembali menunjukkan bahwa musim kemarau membawa tantangan tersendiri bagi daerah yang punya kawasan hutan, lahan perkebunan, serta wilayah gambut yang luas.
Berdasarkan data BNPB per 8 September, indikasi luas lahan yang terbakar di enam provinsi prioritas mencapai 76.922,3 hektare. Sedangkan data 6 September menunjukkan, dari total 72.009 hektare lahan gambut yang terbakar, 939 hektarenya dalam proses pemadaman intensif.
Besarnya luasan tersebut memberikan gambaran begitu rentannya hutan dan gambut dari bahaya api ketika musim kering. Api yang tersulut dapat meluas dengan cepat dan sangat sulit dikendalikan.
Kondisi El Nino yang memperparah periode kering daerah semakin menambah kerentanan itu. Berkurangnya curah hujan membuat vegetasi dan lahan menjadi lebih mudah terbakar. Api menyebar jauh lebih cepat ketika berada dalam kondisi lingkungan yang kering.
Dari sejumlah wilayah yang ada di Indonesia dan kini dalam situasi kebakaran hutan dan lahan, Provinsi Bengkulu ikut menjadi perhatian. Kementerian Kehutanan pun pada awal September telah melakukan supervisi terhadap pemerintah daerah dan forkopimda setempat sebagai upaya kesiapsiagaan mencegah meluasnya kebakaran di Bengkulu agar tidak seperti di wilayah lain.
Bengkulu memiliki kawasan hutan dan konservasi seluas 46,43 persen dari total 32.225 kilometer persegi wilayah provinsi. Di luar kawasan hutan dan konservasi, Bengkulu juga masih punya lahan perkebunan serta berbagai bentuk penggunaan lahan lainnya, termasuk kawasan gambut.
Pada situasi kering saat ini, BMKG mengeluarkan peringatan tentang adanya wilayah-wilayah di Bengkulu yang perlu mendapatkan perhatian selama musim kemarau, karena memiliki tingkat kemudahan terbakar tinggi.
Peluang kemudahan terbakar di beberapa bagian wilayah daerah itu bahkan mencapai 80 hingga 90 persen, sementara musim hujan diperkirakan datang terlambat sekitar tiga dasarian. Hal ini berarti, kondisi kering masih berpotensi berlangsung dan kewaspadaan terhadap kebakaran belum dapat diturunkan dalam waktu dekat.
Di sisi lain, data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Bengkulu menunjukkan sepanjang 2026 terdapat 1.350 titik panas yang terdeteksi di berbagai wilayah. Keberadaan titik panas ini memang tidak serta-merta dapat menunjukkan seluruhnya merupakan kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Meskipun terdapat beberapa titik kebakaran beberapa waktu terakhir, kondisi dan keparahan di Bengkulu tidak sama dengan provinsi lain yang saat ini dalam penanganan pemadaman secara intensif.
Data indikasi luas kebakaran hutan dan lahan yang sekitar 125 hektare menunjukkan bahwa kondisi Bengkulu sejauh ini masih tertangani dengan baik.
Tetapi, situasi yang masih "aman" ini jangan pula menyebabkan daerah abai. Semestinya hal itu menjadi pengingat agar daerah dengan karakteristik rentan terhadap kebakaran perlu menjadikan kondisi saat ini sebagai kesempatan menguji dan memperkuat kesiapsiagaan sebelum keadaan berkembang dan jadi lebih sulit dikendalikan.
Tidak menunggu
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.