Lokapasar MBG jangan sampai hanya menjadi tempat bertemunya pembeli besar dengan pemasok besar...

Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty menyambut positif rencana Badan Gizi Nasional (BGN) meluncurkan lokapasar (marketplace) khusus pengadaan bahan baku Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai dapat menjadi instrumen untuk memperluas pasar bagi UMKM dan pemasok lokal.

Evita mengatakan digitalisasi pengadaan MBG perlu dirancang agar UMKM, koperasi, petani, peternak, dan pemasok lokal dapat menjadi bagian utama dalam rantai pasok program tersebut.

“Lokapasar MBG jangan sampai hanya menjadi tempat bertemunya pembeli besar dengan pemasok besar, UMKM, koperasi, petani, dan peternak lokal harus menjadi pemain utama, bukan sekadar penonton dalam rantai pasok MBG,” tegas Evita dalam keterangan yang diterima, Selasa.

Evita mendukung penerapan sistem verified seller untuk menjamin transparansi, kualitas, dan akuntabilitas, tetapi meminta BGN memastikan proses verifikasi tidak menjadi hambatan administratif maupun digital bagi pelaku usaha kecil.

Menurutnya, BGN perlu menyediakan pendampingan agar pemasok lokal yang telah memenuhi standar dapat lebih mudah masuk ke dalam sistem sekaligus memanfaatkan peluang pasar dari kebutuhan MBG.

Evita juga mendorong pengadaan MBG memprioritaskan produk lokal sepanjang tersedia dan memenuhi standar karena kebutuhan beras, daging, ayam, telur, minyak goreng, dan susu dalam jumlah besar berpotensi menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah.

“Kalau beras dibeli dari petani lokal, telur dan ayam dari peternak setempat, serta distribusinya melibatkan koperasi dan UMKM daerah, maka anggaran MBG tidak hanya menghasilkan makanan bergizi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, memperkuat usaha rakyat, dan menggerakkan ekonomi daerah,” ujarnya.

Selain akses pasar, Evita menekankan pentingnya kepastian pembayaran karena kelancaran arus kas menjadi faktor penting bagi keberlangsungan usaha UMKM yang memasok kebutuhan MBG.

“Bagi UMKM, arus kas adalah urat nadi usaha, karena itu sistem pembayaran harus transparan, cepat, dan memiliki batas waktu yang jelas,” katanya.

Evita menilai keberhasilan marketplace MBG tidak cukup diukur dari kecanggihan platform, tetapi juga dari seberapa banyak UMKM, koperasi, petani, dan peternak lokal yang berhasil masuk ke rantai pasok dan meningkatkan kapasitas usahanya.

Ia menegaskan MBG harus menjadi program gizi sekaligus penggerak ekonomi rakyat.

Baca juga: Wamen HAM: Keselamatan penerima manfaat harus jadi prioritas MBG

Baca juga: Komisi VIII DPR: MBG harus lanjut karena pacu ekosistem ekonomi peternak

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.