Jakarta (ANTARA) -
Dokter spesialis anak subspesialis tumbuh kembang pediatri sosial konsultan Farid Agung Rahmadi menyampaikan bahwa anak yang dinilai pintar tetapi nilai akademiknya rendah ada kemungkinan mengalami gangguan belajar spesifik.
Menurut dr. Farid Agung Rahmadi, M.Si.Med., Sp.A, Subsp. T.K.P.S.(K), gangguan belajar spesifik (Specific Learning Disorder/SLD) adalah gangguan perkembangan saraf yang menyebabkan kesulitan menetap sedikitnya selama enam bulan pada satu atau beberapa bidang akademik utama seperti membaca, menulis, dan matematika.
Dalam seminar tentang disleksia pada anak yang digelar oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia secara daring pada Selasa, ia menjelaskan bahwa SLD berkaitan dengan kelemahan spesifik pada proses kognitif tertentu, seperti fonologi, memori kerja, kecepatan pemrosesan, atau kemampuan visual-spasial.
Menurut dia, kondisi itu dapat membuat anak kesulitan mempelajari bidang akademik tertentu tetapi memiliki kemampuan yang baik di bidang yang lain.
Dokter lulusan Universitas Diponegoro itu menekankan bahwa SLD tidak disebabkan oleh kecerdasan yang rendah, kemalasan, kurang disiplin, kurang motivasi belajar, atau kesalahan pola asuh.
"Jadi jangan buru-buru kita menyebut anak sebagai anak pemalas, bahkan anak bodoh. Justru kita harus mengenali pola kesulitannya," katanya.
Baca juga: Kenali penyebab dan gejala anak mengalami diskalkulia
Dokter Farid menyampaikan bahwa anak yang mengalami SLD dapat memiliki kecerdasan umum normal atau bahkan tinggi.
"Anak bisa berpartisipasi dalam diskusi ketika di kelas dan dapat memiliki kemampuan untuk pemecahan masalah yang non-akademik," katanya.
Menurut dia, anak dengan SLD membutuhkan pendekatan dan dukungan yang berbeda."Tidak hanya sekadar ayo lebih giat lagi, ayo lebih rajin lagi," katanya.
Ia mengemukakan perlunya orang tua dan guru memperhatikan anak yang mengalami kesulitan belajar menetap, kesenjangan antara pemahaman lisan dan capaian akademik, nilai akademiknya rendah pada bidang tertentu, atau menolak sekolah.
Menurut dia, deteksi dini masalah gangguan belajar penting untuk menentukan intervensi atau dukungan pembelajaran yang mungkin diperlukan oleh anak.
Penanganan masalah gangguan belajar spesifik, ia melanjutkan, ditujukan untuk membantu anak belajar sesuai dengan kebutuhan agar potensinya dapat berkembang secara optimal.
Ia menyampaikan bahwa penanganan anak dengan gangguan belajar spesifik memerlukan peran orang tua, guru, tenaga kesehatan, psikolog, dan tenaga profesional terkait.
Baca juga: 76 persen orang tua anak neurodivergen menyadari anak mereka berbeda
Baca juga: Orang tua anak neurodivergen diminta cermat pilah informasi di medsos
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.