Jakarta (ANTARA) -
Dokter spesialis anak subspesialis tumbuh kembang pediatri sosial konsultan dr. Farid Agung Rahmadi, M.Si.Med., Sp.A, Subsp. T.K.P.S.(K) menilai anak yang memiliki gangguan belajar spesifik seperti disleksia perlu didampingi saat belajar, termasuk ketika belajar di sekolah.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) saat diskusi di Jakarta, Selasa, menilai guru perlu memiliki kemampuan untuk mengenali pola kesulitan belajar yang dialami anak sehingga dapat memberikan intervensi awal di lingkungan sekolah.
Intervensi dapat dilakukan secara bertahap, mulai dari pembelajaran di kelas, kelompok kecil, hingga pendampingan secara individual. Jika kesulitan tetap berlangsung dan tidak menunjukkan perbaikan yang berarti, guru perlu berkomunikasi dengan orang tua untuk selanjutnya dilakukan asesmen oleh tenaga profesional.
Baca juga: Faktor yang bisa memicu masalah emosional pada anak dengan disleksia
Farid mengatakan guru juga dapat memberikan akomodasi pembelajaran sesuai kebutuhan anak. Bentuknya antara lain memberikan waktu tambahan saat ujian, membacakan teks yang panjang, memungkinkan anak menjawab secara lisan, menggunakan ukuran huruf yang lebih besar, serta menempatkan anak di area dengan gangguan yang lebih sedikit.
Dalam kondisi tertentu, sekolah juga dapat mempertimbangkan keberadaan guru pendamping untuk membantu anak berkebutuhan khusus mengikuti proses pembelajaran.
Dia juga menekankan penguatan kapasitas tenaga pendidik penting agar sekolah dapat memberikan dukungan yang sesuai, sekaligus membantu anak tetap percaya diri dalam mengikuti kegiatan belajar.
"Faktor kepercayaan diri itu sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Kalau lingkungan sekolah dan rumah memberikan dukungan yang tepat, tentu hasilnya akan lebih baik," ujar Farid.
Orang tua dan guru dapat mengenali gejala awal disleksia sejak anak mulai belajar membaca, terutama ketika anak secara konsisten kesulitan mengenali huruf dan bunyinya.
"Ketika kelas 1 sampai 3, itu anak mengalami kesulitan belajar membedakan atau mengidentifikasi huruf ini bunyinya bagaimana. Ketika ditambah dengan huruf vokal, maka juga sulit untuk mengeja," kata Farid.
Salah satu cara menilai tanda disleksia pada anak adalah melihat perbedaan hasil tes lisan dan tertulis. Anak dengan disleksia pada umumnya dapat memahami materi belajar secara lebih baik ketika soal dibacakan dibandingkan ketika dia harus membacanya sendiri.
"Ketika soalnya dibacakan, anak jauh lebih baik hasilnya daripada tes yang tertulis," kata Farid.
Baca juga: Kenali tanda-tanda disleksia semasa anak belajar membaca
Baca juga: Orang tua anak neurodivergen diminta cermat pilah informasi di medsos
Baca juga: 76 persen orang tua anak neurodivergen menyadari anak mereka berbeda
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.